Longsor Apau Ping Kian Dekati Permukiman, Belasan Rumah Terancam
- 10 Jun 2026 12:18 WIB
- Malinau
Poin Utama
- Longsor di Desa Apau Ping yang terjadi sejak 2025 kini hanya berjarak sekitar tiga hingga empat meter dari rumah warga, empat rumah terdampak langsung.
- Masyarakat berharap penanganan segera dilakukan melalui pembangunan penahan tebing untuk mencegah longsor semakin mendekati permukiman.
RRI.CO.ID, Malinau - Longsor yang terjadi di bantaran sungai Desa Apau Ping, Kecamatan Bahau Hulu, semakin mendekati permukiman warga. Pergerakan tanah terbaru dilaporkan menyisakan jarak rumah warga dengan tebing sungai sekitar tiga hingga empat meter.
Kepala Desa Apau Ping, Yakub Jalung mengatakan, longsor mulai terjadi sejak Maret 2025, ketika aliran Sungai Bahau menjadi lebih deras akibat intensitas hujan tinggi. Kondisi terparah terjadi kembali sekitar Agustus hingga September 2025 saat curah hujan dan banjir meningkat signifikan.
"Kalau untuk longsor di Desa Apau Ping itu mulai terjadi sekitar Maret 2025. Yang paling parah sekitar Agustus atau September karena saat itu intensitas hujan cukup tinggi dan banjir juga besar," ujarnya saat dikonfirmasi RRI pada Selasa (9/6/2026).
Menurut Yakub, longsor masih dipicu tingginya curah hujan yang menyebabkan banjir serta pergeseran tebing di sepanjang aliran sungai. Kondisi tersebut mengikis bantaran sungai yang berada dekat dengan permukiman masyarakat.
Ia menjelaskan, perkembangan terbaru menunjukkan longsor kembali bergerak mendekati kawasan permukiman. Jarak antara titik longsor dengan rumah warga kini diperkirakan hanya tersisa sekitar tiga hingga empat meter.
"Sekarang longsor semakin dekat ke rumah warga karena kejadian yang terbaru akhir Mei (2026). Jaraknya kurang lebih tinggal tiga sampai empat meter dari rumah yang paling dekat," kata Yakub.
Yakub menyebut, terdapat empat rumah yang terdampak langsung karena berada paling dekat dengan lokasi longsor. Selain itu, terdapat delapan hingga sepuluh rumah lainnya yang berpotensi terdampak apabila terjadi banjir besar dan longsor kembali meluas.
Menurutnya, area di bagian hilir longsoran mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan dan pergeseran tanah. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan longsor susulan.
"Yang dekat longsor ada empat rumah. Tetapi yang berpotensi terdampak ke depan bisa sekitar delapan sampai sepuluh rumah karena longsor mulai melebar ke bagian bawah," ucapnya.
Ia menjelaskan, longsor juga menyebabkan banyak pohon yang sebelumnya berfungsi sebagai penahan alami tanah ikut tumbang dan hanyut. Beberapa pohon besar, termasuk pohon durian dan rumpun bambu yang berada di tepi sungai, telah hilang akibat abrasi dan longsor.
Akibat hilangnya vegetasi tersebut, daya tahan tanah di sekitar bantaran sungai semakin berkurang. Kondisi itu dinilai memperbesar risiko terjadinya longsor lanjutan saat musim hujan.
Yakub mengatakan, warga yang tinggal paling dekat dengan tepian sungai atau lokasi longsor kini hidup dalam kekhawatiran. Saat hujan deras atau banjir terjadi, sebagian warga memilih mengungsi sementara ke rumah tetangga maupun keluarga.
"Kekhawatiran kami kalau longsor itu sampai ke rumah warga. Yang rumahnya dekat longsor kadang tidak bisa tidur kalau hujan atau banjir. Mereka sering mengungsi ke tempat keluarga atau tetangga," ujarnya.
Pemerintah Desa Apau Ping bersama Dinas Pekerjaan Umum telah melakukan pendataan dan peninjauan lokasi longsor. Tinggi tebing yang mengalami maupun berpotensi longsor bervariasi, mulai dari enam hingga delapan meter, tergantung elevasi tanah di setiap titik.
Ia berharap pemerintah dapat segera merealisasikan pembangunan penahan tebing untuk melindungi permukiman warga. "Harapan masyarakat tentu supaya longsor ini segera ditangani. Kami berharap ada pembangunan penahan longsor agar rumah-rumah warga yang berada dekat lokasi bisa merasa aman," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....