Keterbatasan Ekonomi Jadi Tantangan Pemenuhan Gizi Balita di Pujungan
- 28 Agt 2026 09:11 WIB
- Malinau
Poin Utama
- Sebanyak 17 balita di lima desa Kecamatan Pujungan terindikasi stunting pada semester pertama tahun 2026.
- Keterbatasan ekonomi keluarga menjadi salah satu tantangan utama dalam pemenuhan gizi balita di wilayah Pujungan.
- Camat Pujungan Muling Lengkan mengonfirmasi bahwa sebagian keluarga balita sasaran memiliki tingkat pendapatan yang rendah.
RRI.CO.ID, Malinau - Keterbatasan ekonomi keluarga menjadi salah satu tantangan dalam upaya pemenuhan gizi balita di Kecamatan Pujungan. Kondisi tersebut ditemukan dalam pendataan balita stunting di wilayah tersebut.
Sebanyak 17 balita yang tersebar di lima desa terindikasi stunting pada semester pertama tahun 2026. Camat Pujungan, Muling Lengkan, mengatakan sebagian keluarga balita sasaran memiliki tingkat pendapatan yang rendah.
Kondisi ekonomi tersebut menjadi kendala dalam menyediakan makanan bergizi seimbang, terutama pangan yang kaya protein hewani untuk mendukung pertumbuhan anak.
“Rendahnya penghasilan orang tua yang sebagian besar di bawah Rp500 ribu menjadi kendala utama dalam menyediakan makanan bergizi seimbang dan kaya protein hewani,” ujar Muling saat memaparkan data stunting di Ruang Intulun Kantor Bupati Malinau beberapa waktu lalu.
Selain persoalan ekonomi, karakteristik pekerjaan masyarakat juga berpengaruh terhadap pola pengasuhan anak. Sebagian besar orang tua balita sasaran bekerja sebagai petani dan banyak menghabiskan waktu di ladang, sehingga anak kerap dititipkan kepada anggota keluarga lainnya.
Menurut Muling, kondisi tersebut dapat berdampak pada keteraturan pemberian makanan kepada anak. Keterbatasan ekonomi yang berlangsung bersamaan dengan pola pengasuhan yang kurang optimal menjadi persoalan yang perlu ditangani secara menyeluruh.
Persoalan stunting di Pujungan juga berkaitan dengan tingkat pengetahuan orang tua mengenai gizi dan kesehatan. Sebagian orang tua balita sasaran memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah, bahkan terdapat yang tidak menyelesaikan pendidikan dasar.
Di sisi lain, riwayat penyakit menular dalam keluarga, termasuk tuberkulosis, serta kondisi sanitasi lingkungan turut menjadi perhatian dalam penanganan stunting.
Muling mengatakan pemerintah bersama puskesmas telah melakukan sejumlah intervensi, mulai dari pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, pemberian vitamin A, obat cacing dan makanan tambahan, hingga imunisasi dan pemeriksaan kehamilan.
Intervensi juga diarahkan kepada keluarga melalui edukasi mengenai gizi seimbang dan pola asuh. Pendampingan intensif akan diperkuat agar orang tua tetap dapat memenuhi kebutuhan gizi anak meskipun berada dalam kondisi ekonomi terbatas.
Pemerintah Kecamatan Pujungan juga tengah memperkuat koordinasi dengan puskesmas dan pemerintah desa untuk menyelaraskan langkah percepatan penurunan stunting.
Selain pemenuhan gizi, pemerintah juga mendorong peningkatan akses air minum bersih, jamban sehat dan perbaikan sanitasi lingkungan sebagai bagian dari upaya mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Secara umum, Pemkab Malinau kini mengimplementasikan penanganan stunting yang lebih spesifik dengan data by name by address, sehingga setiap kasus mendapatkan intervensi khusus berdasarkan penyebabnya.
Setiap kecamatan diwajibkan melakukan verifikasi data untuk mengetahui penyebab spesifik bagi masing-masing balita sasaran. Dengan demikian, penanganan bagi setiap sasaran akan berbeda. (Ading)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....