ITB Dorong Masyarakat Punan Mirau Olah Potensi Lokal Bernilai Ekonomi

  • 14 Agt 2026 11:19 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Institut Teknologi Bandung melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Bottom-Up di Desa Punan Mirau, Kabupaten Malinau.
  • Program ini berfokus pada mengubah potensi sumber daya lokal menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat desa.
  • Kolaborasi melibatkan tiga mitra strategis: Dinas Kehutanan, UPTD KPH Malinau, dan Komunitas Konservasi Indonesia Warsi untuk memastikan keberlanjutan program.

RRI.CO.ID, Malinau - Institut Teknologi Bandung (ITB) mendorong masyarakat Desa Punan Mirau, Kecamatan Malinau Selatan Hulu, Kabupaten Malinau, mengembangkan potensi sumber daya lokal menjadi produk yang bernilai ekonomi.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Skema Bottom-Up, menggandeng Dinas Kehutanan, Unit Pelaksanan Teknis Daerah Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPTD KPH) Malinau, dan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi.

Ketua tim PkM ITB, Dr. Ir. Anne Hadiyane, mengatakan penerapan teknologi dalam program tersebut diarahkan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat juga membangun kemampuan mereka dalam mengelola sumber daya lokal secara mandiri.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi untuk menghadirkan teknologi yang tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat sesuai dengan potensi lokal,” ujar Anne, Jumat (14/8/2026).

Salah satu teknologi yang diperkenalkan yakni pirolisis untuk mengolah biomassa dan limbah lignoselulosa yang tersedia di sekitar masyarakat. Produk hasil pirolisis berupa biochar dan asap cair dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian maupun kehutanan.

Selain itu, masyarakat juga mendapat pengetahuan mengenai pengolahan bahan organik menjadi kompos dan pupuk organik cair (POC). Pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan desa tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap input dari luar wilayah sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Pada sektor kehutanan, tim ITB memperkenalkan inokulan gaharu dan teknik inokulasi melalui injeksi. Teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan gaharu sebagai salah satu komoditas hasil hutan yang memiliki nilai ekonomi.

Pengembangan potensi lokal juga dilakukan melalui budidaya tanaman dan ikan. Pendampingan budidaya tanaman diberikan untuk mendukung pemanfaatan lahan, sedangkan budidaya ikan diarahkan untuk memperkuat diversifikasi sumber pangan sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat.

Kepala UPTD KPH Malinau, Antonius Mangiwa, mengatakan penguatan kapasitas masyarakat penting dalam pengembangan Perhutanan Sosial. Menurutnya, masyarakat membutuhkan pendampingan dalam pengelolaan kawasan, juga keterampilan untuk mengembangkan usaha yang memberikan nilai tambah.

“KPH Malinau menyambut baik dan mendukung kolaborasi yang terbangun melalui Program Desanesha ITB di Desa Punan Mirau. Program ini menjadi salah satu bentuk sinergi yang sangat penting dalam memperkuat kapasitas masyarakat Perhutanan Sosial, tidak hanya dalam aspek pengelolaan kawasan, tetapi juga dalam pengembangan usaha dan peningkatan ekonomi masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Project Officer KKI Warsi, M. Nur Huda, menegaskan pendampingan tidak akan berhenti pada kegiatan pelatihan. Masyarakat akan terus didampingi dalam menerapkan teknologi yang telah diperoleh, mulai dari pembuatan inokulan gaharu, pupuk organik, kompos, biochar, asap cair, budikdamber, hingga budidaya tanaman.

Menurutnya, keberhasilan program selain diukur dari jumlah pelatihan yang dilakukan, juga dari kemampuan masyarakat mengadopsi pengetahuan tersebut menjadi kegiatan yang berkelanjutan.

“Kami ingin memastikan bahwa pelatihan yang telah diberikan tidak berhenti menjadi pengetahuan semata. Pendampingan akan terus dilakukan untuk memperkuat kelembagaan kelompok, mendukung praktik di lapangan, mengidentifikasi peluang usaha, hingga mendorong akses pasar bagi produk yang dihasilkan masyarakat,” katanya.

Melalui pendekatan tersebut, berbagai sumber daya yang tersedia di Desa Punan Mirau, mulai dari biomassa, bahan organik, tanaman, hingga sumber daya perairan, diharapkan dapat dikembangkan menjadi sumber pangan dan produk bernilai ekonomi tanpa mengabaikan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan yang melibatkan bidang kehutanan, bioteknologi mikroba, agroteknologi, teknologi bioproduk, dan akuakultur tersebut sekaligus menjadi bentuk kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat kemandirian masyarakat di wilayah pedalaman dan kawasan hutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....