Perubahan Iklim dan Cuaca Ekstrem, Apa Dampaknya bagi Malinau?

  • 04 Jun 2026 16:13 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Malinau tidak memiliki musim kemarau secara klimatologis dan mengalami hujan sepanjang tahun.
  • Perubahan iklim meningkatkan risiko cuaca ekstrem, seperti hujan lebat, angin kencang, dan suhu udara yang lebih panas.

‎RRI.CO.ID, Malinau - Perubahan iklim (climate change) menjadi isu global yang semakin sering diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada negara-negara kepulauan yang terancam kenaikan muka air laut, tetapi juga memengaruhi pola cuaca hingga aktivitas masyarakat di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

‎Secara sederhana, perubahan iklim merupakan perubahan pola iklim yang berlangsung dalam jangka waktu panjang. Berbeda dengan cuaca yang dapat berubah dari hari ke hari, perubahan iklim diamati melalui tren yang terjadi selama puluhan hingga ratusan tahun.

‎Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II ‎BMKG Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, menjelaskan bahwa perubahan iklim dapat dilihat dari perubahan sifat statistik unsur-unsur cuaca seperti suhu udara, curah hujan, maupun pola cuaca lainnya.

‎"Perubahan iklim itu adalah perubahan yang teramati dalam sifat statistik kondisi cuaca dalam jangka waktu yang lama atau panjang. Ini termasuk rata-rata suhu udara, curah hujan, atau pola cuaca lainnya yang mengalami perubahan dalam waktu yang panjang," ujarnya saat diwawancarai, Kamis (4/6/2026).

‎Menurutnya, data pengamatan iklim global menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan suhu rata-rata bumi dalam kurun waktu lebih dari satu abad. Kenaikan suhu ini menjadi salah satu indikator perubahan iklim yang saat ini terjadi hampir di seluruh dunia.

‎"Ini sudah ada data-datanya. Jadi di seluruh dunia memang ada kecenderungan. Mulai dari tahun 1840 sampai tahun awal 2000-an, kita di bumi ini rata-rata mengalami kenaikan suhu sekitar 1 derajat," katanya.

‎Dampaknya sangat besar terhadap sistem iklim bumi. Kenaikan suhu tersebut dapat meningkatkan penguapan air, mengubah pola pembentukan awan, memengaruhi curah hujan, hingga meningkatkan frekuensi kejadian cuaca ekstrem.

‎Sulam Khilmi menjelaskan, salah satu dampak yang paling sering dirasakan masyarakat adalah meningkatnya kejadian cuaca ekstrem. Kondisi ini dapat berupa hujan dengan intensitas sangat tinggi dalam waktu singkat maupun angin kencang yang melebihi kondisi normal.

‎"Cuaca ekstrem itu contohnya curah hujan yang tinggi dalam waktu singkat. Kemudian angin kencang di atas 25 knot, ini juga cuaca ekstrem," ujarnya.

‎Selain memicu cuaca ekstrem, perubahan iklim juga berdampak terhadap kenaikan muka air laut. Fenomena ini terjadi akibat pemuaian air laut karena suhu yang semakin hangat serta mencairnya es di wilayah kutub dan pegunungan tinggi.

‎"Nah seperti kita ketahui rata-rata dari tahun ke tahun tinggi muka laut itu semakin tinggi. Nah itu juga salah satu dampak dari perubahan iklim," katanya.

‎Di Indonesia, dampak perubahan iklim juga dapat diamati melalui semakin berkurangnya tutupan salju abadi di kawasan Puncak Jaya, Papua. Peningkatan suhu udara secara perlahan menyebabkan lapisan es yang telah bertahan selama ribuan tahun terus menyusut.

‎"Contoh di Indonesia adalah berkurangnya salju di Puncak Jaya. Ini juga dampak daripada perubahan iklim karena seiring dengan kenaikan suhu udara, maka tutupan salju di Puncak Jaya itu juga semakin berkurang," jelasnya.

‎Salah satu dampaknya yang telah dirasakan bagi Malinau adalah kenaikan suhu udara yang menyebabkan cuaca semakin panas. Sebagai gambaran, karakteristik iklim Kabupaten Malinau berbeda dengan beberapa wilayah lain di Kalimantan Utara, Malinau secara klimatologis tidak memiliki musim kemarau yang jelas.

‎Ia menjelaskan bahwa wilayah Kalimantan Utara yang memiliki pola musim relatif jelas hanya sebagian Pulau Nunukan, Pulau Sebatik, dan sebagian wilayah Tanjung Palas Timur. Sementara Malinau masuk dalam kategori daerah dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun.

‎"Malinau itu tidak ada musim kemarau. Adanya hanya musim hujan, hujan sepanjang tahun," ujarnya.

‎Dalam terminologi BMKG, musim kemarau tidak berarti tidak turun hujan sama sekali. Suatu wilayah baru dikategorikan mengalami musim kemarau apabila curah hujan dalam tiga dasarian atau tiga periode sepuluh harian berturut-turut berada di bawah 50 milimeter.

‎"Nah sedangkan secara statistik Malinau, secara umum sekabupaten Malinau, itu tidak pernah mengalami kejadian tiga dasarian berturut-turut intensitas hujannya kurang dari 50 milimeter," katanya.

‎Karena itu, ketika masyarakat merasakan cuaca panas selama beberapa hari atau hujan yang berkurang, kondisi tersebut belum tentu dapat disebut sebagai musim kemarau. Fenomena itu lebih tepat disebut sebagai periode kering yang masih berada dalam karakteristik iklim Malinau.

‎Perubahan iklim dapat dirasakan melalui meningkatnya suhu udara dan perubahan pola cuaca yang memengaruhi kenyamanan masyarakat. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah angin monsun Australia yang membawa massa udara kering menuju wilayah Indonesia pada periode tertentu.

‎"Ketika monsun Australia ini tidak cukup membawa uap air, yang dibawa adalah udara kering sehingga intensitas hujan di beberapa wilayah Indonesia termasuk di Malinau menjadi berkurang," ujarnya.

‎Menurut Sulam Khilmi, berkurangnya kandungan uap air di atmosfer membuat pembentukan awan menjadi lebih sedikit. Akibatnya, sinar matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi dan menyebabkan suhu udara terasa lebih panas dibanding biasanya.

‎"Nah, ketika uap air di udara ini berkurang, tentu akan mengurangi kelembapan udara. Ketika kelembapan udaranya berkurang, seolah-olah kita merasa lebih gerah, lebih panas," katanya.

‎Kondisi tersebut menjelaskan mengapa dalam beberapa waktu terakhir masyarakat Malinau merasakan cuaca yang lebih terik meskipun masih hujan. Fenomena ini bukan berarti Malinau sedang memasuki musim kemarau, melainkan bagian dari dinamika atmosfer yang dipengaruhi oleh pergerakan monsun dan kecenderungan peningkatan suhu akibat perubahan iklim.

‎Pemahaman masyarakat terhadap perubahan iklim menjadi semakin penting. Selain meningkatkan risiko cuaca ekstrem, kenaikan suhu udara yang terjadi secara bertahap juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian, sumber daya air, kesehatan masyarakat, hingga risiko bencana hidrometeorologi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....