Teknologi Tepat Guna Masuk Desa 3T Metut

  • 13 Mei 2026 15:22 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Masyarakat Desa Metut mulai mengakses teknologi tepat guna melalui program pengabdian masyarakat ITB untuk mendukung pengelolaan potensi lokal dan peningkatan keterampilan warga.
  • Pelatihan pembuatan inokulan gaharu, biochar, pupuk organik, dan olahan ikan diharapkan memperkuat ekonomi masyarakat wilayah 3T melalui pengembangan usaha berbasis sumber daya desa.

RRI.CO.ID, Malinau - Masyarakat Desa Metut, Kecamatan Malinau Selatan Hulu, mulai mengakses berbagai teknologi tepat guna untuk mengelola potensi lokal.

Masyarakat mendapat pelatihan pembuatan inokulan gaharu, biochar, asap cair, pupuk organik, hingga olahan ikan. Pelatihan diberikan melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tim dosen dan mahasiswa dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB bersama mitra dari Universitas Borneo Tarakan (UBT) hadir membawa inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. Ir. Mustika Dewi dari SITH ITB, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

Program juga mendorong pengembangan ekonomi berbasis potensi wilayah. “Kegiatan ini dirancang agar masyarakat memiliki keterampilan praktis yang dapat diterapkan langsung sesuai kondisi lokal,” ujarnya.

Kegiatan ini juga didukung Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara, Unit Pelaksana Teknis Daerah Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPTD KPH) Malinau, serta Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi.

Dalam pelaksanaannya, warga mempraktikkan pembuatan inokulan dan teknik injeksi gaharu untuk meningkatkan produksi resin bernilai ekonomi.

Warga juga belajar teknologi pirolisis untuk menghasilkan biochar dan asap cair. Pemanfaatannya diperkenalkan sebagai solusi pendukung pertanian dan pengelolaan limbah biomassa.

Masyarakat turut mendapat pelatihan pembuatan pupuk cair, kompos, serta pengolahan hasil perikanan. Materi ini diharapkan membantu diversifikasi sumber pendapatan rumah tangga.

Peserta pelatihan, Asan Kila, menilai pengetahuan baru tersebut memberi solusi bagi tantangan budidaya gaharu di desa. “Semoga kami bisa membuat inokulan sendiri sehingga gaharu yang sudah ditanam dapat disuntik secara mandiri,” katanya.

Pendamping desa dari KKI Warsi, Tiarma Rezeki Manalu, mengatakan pelatihan tidak berhenti pada transfer materi. Pihaknya akan melanjutkan pendampingan agar masyarakat mampu menerapkan teknologi secara mandiri.

“Pasca pelatihan ini, kami akan melakukan pendampingan intensif melalui uji coba pembuatan inokulan gaharu, olahan ikan, biochar, dan pupuk organik,” ujar Tiarma.

Menurutnya, keberlanjutan program penting untuk memastikan teknologi yang diperkenalkan benar-benar memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat desa.

Melalui program tersebut, Desa Metut mulai membuka akses baru terhadap inovasi yang sebelumnya sulit dijangkau. Kehadiran teknologi tepat guna diharapkan memperkuat daya saing masyarakat wilayah 3T melalui pengelolaan potensi lokal yang lebih produktif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....