Banyak Pegunungan dan Aliran Sungai, Malinau Punya Potensi Ancaman Bencana Tinggi
- 17 Jun 2026 21:09 WIB
- Malinau
RRI.CO.ID, Malinau - Pemkab Malinau melalui Badan Penanggulangan bencana Daerah (BPBD) menggelar Sosialisasi Kajian Risiko Bencana (KRB) Kabupaten Malinau Tahun 2025-2029. Hal ini sebagai upayapPemerintah Kabupaten Malinau terus memperkuat upaya pengurangan risiko bencana melalui penyusunan dokumen strategis yang menjadi acuan pembangunan daerah.
Hal itu ditandai dengan dibukanya secara resmi Sosialisasi Kajian Risiko Bencana (KRB) Kabupaten Malinau Tahun 2025-2029 oleh Plh. Sekretaris Daerah, Drs. Agustinus, M.AP., di Ruang Laga Feratu, Kamis (17/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Plh Sekda membacakan sambutan tertulis Bupati Malinau yang menegaskan bahwa luas wilayah Kabupaten Malinau mencapai sekitar 39.800 kilometer persegi atau hampir setengah dari luas Provinsi Kalimantan Utara. Kondisi geografis yang didominasi kawasan hutan, pegunungan, perbukitan, serta aliran sungai menjadikan Malinau memiliki potensi ancaman bencana yang cukup tinggi.
"Beberapa ancaman yang berpotensi terjadi di Kabupaten Malinau antara lain banjir, banjir bandang, tanah longsor, serta kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, penanggulangan bencana tidak bisa hanya dilakukan saat bencana terjadi, tetapi harus dimulai dari upaya pencegahan dan pengurangan risiko," ujar Agustinus membacakan sambutan Bupati.
Menurutnya, Kajian Risiko Bencana Tahun 2025-2029 merupakan dokumen penting yang memuat identifikasi ancaman, tingkat kerentanan, kapasitas, hingga tingkat risiko bencana di Kabupaten Malinau. "Dokumen tersebut akan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan, program, serta kegiatan pembangunan yang berwawasan kebencanaan," ujarnya.
Bupati juga mengingatkan seluruh peserta terhadap peristiwa banjir bandang yang melanda Kabupaten Malinau pada 22 September 2023. "Saat itu, meluapnya Sungai Malinau, Sungai Mentarang, dan Sungai Sesayap menyebabkan enam kecamatan terdampak, ratusan rumah terendam, serta memaksa ratusan warga mengungsi," ungkapnya.
Peristiwa tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pihak. Ada empat hal penting yang harus menjadi perhatian bersama. "Yakni memperkuat kesiapsiagaan dan sistem peringatan dini, menjaga kelestarian lingkungan terutama daerah aliran sungai, membangun infrastruktur yang tangguh terhadap bencana, serta memastikan pemulihan ekonomi pascabencana berjalan optimal," tukasnya.(*)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....