MBL Jadi Modal Sosial Atasi Tantangan Lingkungan di Malinau
- 16 Jun 2026 19:48 WIB
- Malinau
Poin Utama
- Program Malinau Bersih Lingkungan (MBL) menghidupkan kembali gotong royong dengan menempatkan Ketua RT sebagai penggerak dan warga sebagai pelaku utama menjaga kebersihan lingkungan.
- Pemkab Malinau mengalokasikan sekitar 33 persen Dana RT 2027 untuk mendukung kerja bakti rutin dan penanganan persoalan lingkungan secara cepat di tingkat RT.
RRI.CO.ID, Malinau - Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks, Pemerintah Kabupaten Malinau menghidupkan kembali semangat gotong royong sebagai kekuatan masyarakat.
Melalui Program Malinau Bersih Lingkungan (MBL), peran Ketua RT dan warga diproyeksikan menjadi modal sosial untuk menjaga kualitas lingkungan dari tingkat paling bawah.
Sekretaris Daerah Kabupaten Malinau, Ernes Silvanus, mengatakan MBL merupakan upaya mengembalikan keterlibatan masyarakat dalam merawat lingkungan sekitar. Selama ini, kegiatan kerja bakti dinilai masih bertumpu pada aparat desa dan pengurus RT.
"Kalau selama ini kita lihat kerja bakti hanya mungkin aparat desa, aparat RT. Nah, kita ingin ke depan ini warganya," kata Ernes di kantor Bupati Malinau beberapa waktu lalu.
Melalui program tersebut, Ketua RT diharapkan mampu menjadi penggerak, motivator, sekaligus jembatan antara masyarakat dengan pemerintah desa. Di sisi lain, warga didorong menjadi pelaku utama dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
"Kita berharap ada dua peran yang kita munculkan. Peran Ketua RT, peran warga. Ketua RT ini bagaimana mereka mampu menggerakkan, memotivasi, bahkan juga menjadi jembatan bagi masyarakat dan pemerintah desa," ujarnya.
Ernes menjelaskan, Program MBL akan didukung melalui pengelolaan Dana RT tahun 2027. Sebagian anggaran diarahkan untuk pelaksanaan kerja bakti rutin sebanyak dua kali dalam sebulan.
"Anggaran yang kita siapkan memang fokus. Untuk kebersihan lingkungan itu sebulan itu dua kali. Itu sudah teranggarkan," ucapnya.
Kegiatan gotong royong tersebut menyasar pembersihan jalan lingkungan, gang, serta area publik. Selain itu, warga juga didorong melakukan normalisasi saluran air dan drainase guna mencegah genangan, sekaligus melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk secara berkala untuk menjaga kesehatan lingkungan.
Bagi Ernes, kesadaran menjaga lingkungan harus dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga. Karena itu, partisipasi warga menjadi kunci keberhasilan program.
"Dari lingkungan terkecil, keluarga maupun lingkungan keluarga. Kita harapkan kesadaran itu tumbuh," katanya.
Pemerintah juga memberikan ruang bagi RT untuk menangani persoalan spesifik yang membutuhkan respons cepat di lingkungan masing-masing. Misalnya membantu warga yang belum memiliki fasilitas sanitasi layak atau menangani titik genangan yang tidak harus menunggu intervensi dari organisasi perangkat daerah.
"Contoh, di RT itu ada mungkin satu atau dua orang yang tidak punya WC, tangani. Mungkin ada area yang tergenang, yang nggak harus nunggu dari PU, nggak nunggu dari kecamatan, tapi bisa ditangani," kata Ernes.
Dari Rp165 juta per RT dana operasional yang direncanakan untuk tahun mendatang, sekitar 33 persen dialokasikan untuk program tersebut.
Harapannya, dari lingkungan RT tumbuh kembali kepedulian, kebersamaan, dan budaya gotong royong sebagai modal sosial masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan lingkungan. (Ading)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....