Kisah Spiritual Haji: Langkah Panjang Menuju Tanah Suci

  • 25 Jun 2025 08:52 WIB
  •  Malinau

KBRN, Malinau : Perjalanan ibadah haji bukan sekadar ritual keagamaan, tapi sebuah pelajaran hidup yang menyentuh jiwa. Begitulah yang dirasakan Joko Agus Santoso (53), seorang Aparatur Sipil Negara asal Malinau Hilir, yang tahun ini berkesempatan menunaikan rukun Islam kelima bersama sang istri, setelah menanti selama lebih dari satu dekade.

Baginya, ini adalah perjalanan spiritual dan fisik yang penuh ujian, keharuan, dan kisah-kisah yang sukar dilupakan. Ditemui usai kepulangannya dari Tanah Suci, Joko tak kuasa membendung rasa haru saat mengisahkan pengalamannya setelah 40 hari berhaji, dan kembali menginjak tanah air.

“Saya benar-benar bersyukur, bangga, dan bahagia karena ini panggilan dari Allah SWT, satu dari sekian orang yang dipanggil ke tanah suci, memenuhi salah satu rukun Islam. Mohon doanya agar kami menjadi haji yang mabrur dan istiqamah,” tuturnya dengan nada terbata menahan tangis.

Joko menunaikan ibadah haji bersama sang istri setelah 14 tahun masa tunggu, sejak pendaftaran pada 2011. Ia mendapat amanah menjadi Ketua Regu Jemaah Haji Kabupaten Malinau, dengan anggota kelompok yang mayoritas lansia.

“Yang paling tua jemaah haji Malinau usianya hampir 70 tahun. Alhamdulillah semuanya sehat dan pulang dengan selamat,” ucapnya.

Namun, perjalanan haji tak semudah tampaknya. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika ia dan kelompoknya harus berjalan kaki sekitar 7 kilometer dari Musdalifah ke Mina lantaran tidak ada kendaraan.

“Kami sempat tersesat karena informasi yang kurang tepat. Tapi alhamdulillah, karena hasil manasik dan kekompakan, kami bisa mandiri dan tidak tergantung pada pembimbing kloter,” kenangnya.

Pengalaman ini, katanya, adalah bentuk ujian dari Allah. “Ketemu Bupati saja susah, apalagi bertemu dengan Allah. Di situlah diuji iman kita,” ujar Joko dengan mata berkaca-kaca.

Ada pula kejadian yang ia anggap sebagai keajaiban. Saat berada di Mina, Joko sempat demam selama hampir seminggu.

Namun suatu malam, ia merasakan seperti dikelilingi kelambu disertai kehadiran sosok asing. “Ada orang tinggi besar seperti orang Arab, mengitari tempat tidur saya. Tapi setelah sadar, saya lihat itu bukan kelambu, tapi tembok beton. Anehnya, setelah itu demam saya langsung sembuh,” katanya.

Keajaiban lain dirasakan istrinya saat diizinkan makan kurma dan coklat di sebuah kebun. Meski sempat mengambil dan menyimpan sedikit untuk dimakan dalam perjalanan, makanan itu tiba-tiba menghilang.

“Itu disilahkan ambil sepuasnya tapi nggak sempat dimakan di situ ada sebagian dibawa pulang dalam perjalanan, tapi saat mau dimakan di perjalanan, kurma dan coklat itu tidak ada. Mungkin itu peringatan halus agar tidak membawa pulang sesuatu yang tidak semestinya,” ujarnya.

Temannya dari Nunukan juga mengalami hal serupa. Ia membawa makanan dari Arafah, namun saat berjalan terasa sangat berat.

Setelah meninggalkan makanan itu, tubuhnya langsung terasa ringan. “Sebenarnya sudah milik dia, tapi memang makanan itu seharusnya dimakan di tempat, bukan dibawa, dia bawa rasa berat nggak sampai-sampai rasanya, kemudian setelah nggak dibawa ringan badannya sampai Mina,” kata Joko.

Ibadah haji, bagi Joko, bukan sekadar perjalanan spiritual tapi juga ujian fisik dan batin yang mengajarkan banyak hal. “Kami bersyukur bisa diberi kekuatan, terutama dalam kondisi desak-desakan dan padatnya jemaah. Bahkan istri saya yang sebelumnya tidak kuat jalan jauh, alhamdulillah bisa sampai,” ujarnya.

Kini setelah kembali ke Malinau, Joko membawa pulang pelajaran hidup dan kisah-kisah yang akan dikenangnya seumur hidup. “Semoga pengalaman ini menguatkan iman kami dan menjadi bekal untuk hidup yang lebih baik,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....