Menemukan Jalan dalam Anyaman Rotan: Kisah Dhoroteus, Pengrajin di Pulau Sapi
- 01 Okt 2026 15:41 WIB
- Malinau
Poin Utama
- Dhoroteus adalah pengrajin rotan yang menjalankan usahanya di Desa Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.
- Keterampilan anyaman rotan yang dimiliki Dhoroteus telah dipelajarinya sejak tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan, dan terus dikembangkan selama hampir empat tahun di Malinau.
- Produk kerajinan rotan Dhoroteus mencakup beragam perabot rumah tangga seperti kursi, sofa, rak, dan berbagai furniture yang dihasilkan melalui teknik anyaman tradisional.
RRI.CO.ID, Malinau - Di antara rangkaian rotan yang dianyam menjadi kursi, sofa, rak hingga berbagai perabot rumah tangga, tersimpan perjalanan panjang Dhoroteus menekuni keterampilan yang kini menjadi bagian dari kesehariannya.
Dhoroteus merupakan salah seorang pengrajin rotan yang menjalankan usahanya di Desa Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau. Hampir empat tahun berada di Malinau, ia bertahan dengan keterampilan yang telah dipelajarinya sejak berada di Makassar, Sulawesi Selatan.
Perjalanan Dhoroteus mengenal kerajinan rotan bermula ketika ia belajar kepada pekerja asal Filipina yang saat itu bekerja di sebuah perusahaan di Makassar.
"Saya belajar di Makassar. Dulu mentor saya itu orang Filipina," ujar Dhoroteus kepada RRI, Kamis (1/10/2026) saat ditemui di Pulau Sapi.
Menurutnya, untuk menguasai dasar-dasar pengolahan rotan, ia membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Selama masa tersebut, ia mempelajari karakter rotan, cara mengolah bahan hingga teknik pengerjaannya.
"Tiga bulan untuk saya kuasai. Untuk mengenal rotan, cara rotan bagaimana, cara kerjanya," katanya.
Setelah menguasai dasar keterampilan tersebut, Dhoroteus kemudian mengembangkan tekniknya sendiri. Baginya, keterampilan membuat kerajinan tidak berhenti setelah seseorang menguasai teknik dasar, tetapi terus berkembang melalui pengalaman dan inovasi.
Keterampilan itu pula yang kemudian membawanya ke Malinau. Ia mengaku sengaja datang ke Bumi Intimung untuk menekuni pekerjaan sebagai pengrajin rotan.
Di Pulau Sapi, Dhoroteus bersama seorang rekannya membuat beragam produk berbahan rotan yang telah memiliki pasar tersendiri di Malinau dan sekitarnya.
Namun, perjalanan sebagai pengrajin tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Dhoroteus menyebut persoalan harga menjadi salah satu kendala yang pernah dihadapinya.
Menurutnya, masih ada konsumen yang menawar hasil kerajinan dengan harga rendah tanpa melihat proses pengerjaan maupun nilai estetika yang terdapat dalam sebuah produk rotan.
Baginya, penghargaan terhadap hasil karya sangat penting bagi seorang pengrajin. "Kalau misalnya apa yang kita kerjakan itu, orang beli dengan harga mahal, nah itu merasa dihargai," ujarnya.
Justru di Malinau, ia merasakan hal yang berbeda. Menurut Dhoroteus, masyarakat setempat memiliki ketertarikan terhadap produk rotan dan bersedia membeli dengan harga yang lebih sesuai dengan hasil pengerjaan.
"Orang di sini itu menyukai rotan. Dan mereka mau dengan harga-harga mahal sekali pun," katanya.
Di tengah persaingan antarpengrajin, Dhoroteus juga tidak melihat keberadaan pelaku usaha lain sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Persaingan justru dianggapnya sebagai pemicu untuk menciptakan sesuatu yang berbeda.
"Kita enggak takut sama saingan. Malah memaksa kita untuk berinovasi supaya bisa menciptakan produk yang lebih baik,” ujarnya.
Kini, keterampilan yang tak semua orang miliki tersebut menjadi nyawa dalam setiap produk yang dibuatnya di mebel rotan Desa Pulau Sapi. Ia berharap masyarakat ikut menjaga keberlangsungan usaha tersebut dengan mencintai dan menggunakan produk lokal.
"Kalau mebel rotan banyak orang beli, usaha-usaha UMKM itu bertahan. Itu harapan saya," katanya.
Dari tangan Dhoroteus, rotan berubah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Di balik setiap anyaman, ada keterampilan yang terus diasah, serta pilihan untuk tetap bertahan dan berkembang di Pulau Sapi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....