Long Sule dan Harapan Akan Jalan yang Belum Tersambung
- 19 Jun 2026 11:01 WIB
- Malinau
Poin Utama
- Long Sule masih menjadi satu-satunya wilayah di Apau Kayan yang belum terhubung akses jalan layak kendaraan.
- Warga harus menempuh jarak puluhan kilometer melintasi hutan, rawa, sungai kecil, dan perbukitan untuk mencapai wilayah lain.
- Masyarakat terus mendorong penyelesaian pembangunan jalan yang telah dibuka beberapa tahun lalu.
RRI.CO.ID, Malinau - Bagi sebagian besar masyarakat, perjalanan puluhan kilometer mungkin identik dengan kendaraan bermotor. Namun tidak demikian bagi warga Desa Long Sule, Kecamatan Kayan Hilir.
Di kampung yang berada di wilayah Apau Kayan itu, berjalan kaki masih menjadi bagian dari kehidupan ketika harus menjangkau daerah lain. Opsi termudah dan menjadi tumpuan harapan adalah jalur udara.
Namun, kerap kali ada kondisi tertentu yang tidak memungkinkan bagi warga untuk mengakses rute udara, dari keterbatasan kuota penumpang, hingga faktor cuaca atau kondisi alam lainnya.
Belum lama ini, sebanyak 53 warga Long Sule menempuh perjalanan menuju Long Top dengan berjalan kaki. Jarak yang harus dilalui sekitar 40 kilometer dengan waktu tempuh dua hingga tiga hari.
Perjalanan itu membawa mereka melewati hutan, rawa, anak sungai, serta perbukitan yang membentang di antara kedua wilayah. Saat musim hujan, medan menjadi lebih berat karena jalan berubah licin dan sejumlah titik rawan tergenang.
Kepala Desa Long Sule, Jarod Irei, mengatakan kondisi tersebut bukan semata karena pilihan warga untuk berjalan kaki. Keterbatasan akses transportasi masih menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat hingga saat ini.
Menurutnya, jalur darat menuju Long Top memang telah dibuka pemerintah sejak 2022. Namun pembangunan baru sebatas badan jalan setapak dan belum dapat dilalui kendaraan penumpang.
"Untuk masyarakat masih harus berjalan kaki. Kendaraan belum bisa lewat sampai sekarang," katanya kepada RRI, Rabu (17/6/2026).
Akibatnya, warga yang hendak bepergian masih harus mengandalkan tenaga sendiri. Hanya alat berat seperti ekskavator dan traktor yang mampu melintas di jalur tersebut.
Bagi masyarakat Long Sule, akses jalan bukan sekadar sarana transportasi. Jalan yang memadai akan mempermudah mobilitas warga untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pendidikan, pelayanan kesehatan, kegiatan sosial, hingga urusan ekonomi.
Jarod menuturkan, kampungnya menjadi salah satu wilayah di Apau Kayan yang hingga kini belum memiliki akses jalan yang benar-benar dapat digunakan kendaraan. Kondisi itu membuat perjalanan panjang masih menjadi kenyataan yang harus dihadapi warga.
"Long Sule ini satu-satunya daerah di Apau Kayan yang belum tembus akses jalannya," ujarnya.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, harapan warga sebenarnya sederhana. Mereka ingin pembangunan jalan yang pernah dimulai dapat kembali dilanjutkan hingga benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat.
Harapan itu terus disampaikan dari tahun ke tahun. Sebab selama jalan belum tersambung sepenuhnya, langkah kaki akan tetap menjadi penghubung utama warga Long Sule dengan dunia di luar kampung mereka.
"Kami berharap pembangunan jalan yang sudah pernah dibuka dapat dilanjutkan sehingga akses masyarakat menjadi lebih mudah," kata Jarod.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....