Refleksi Pengabdian Polwan di HUT ke-77
- 01 Sep 2025 18:23 WIB
- Malinau
KBRN, Malinau : Tahun ini, Polisi Wanita (Polwan) genap berusia 77 tahun. HUT Polwan yang diperingati setiap 1 September menjadi momentum nasional untuk mengenang perjalanan panjang pengabdian Polwan sekaligus menegaskan komitmen mereka dalam melayani masyarakat.
Hari Jadi Polwan diperingati setiap 1 September, bertepatan dengan dimulainya pendidikan enam wanita pertama pada tahun 1948. Seiring perjalanan waktu, peran Polwan terus berkembang, dari awalnya menangani urusan perempuan dan anak, hingga dilibatkan dalam berbagai tugas kepolisian.
Perkembangan penting terjadi pada 1957 saat angkatan Polwan kedua dibuka, lalu tahun 1970 ketika Polwan mulai diikutsertakan dalam tugas-tugas lapangan termasuk patroli kota. Jumlah Polwan meningkat pesat pada dekade 1980-an, hingga pada 1991 Brigadir Jenderal Polisi Jeanne Mandagi menjadi Polwan pertama yang menyandang pangkat jenderal bintang satu.
Memasuki tahun 2000, Polwan semakin luas kiprahnya dengan kesempatan menduduki jabatan strategis, termasuk Kapolres, dan peran dalam posisi pimpinan tinggi Polri. Perjalanan sejarah ini menegaskan bahwa Polwan menjadi bagian penting dalam pembangunan institusi kepolisian sekaligus pengabdian kepada masyarakat.
Bagi Kasatlantas Polres Malinau, Iptu Dhea Gustriwidia Ningrum, peringatan Hari Jadi Polwan ke-77 merupakan kesempatan untuk merefleksikan kembali tugas dan pengabdian, terutama bagaimana Polwan hadir lebih dekat dengan masyarakat di wilayah perbatasan, lebih dari sekedar aktifitas seremonial.
“Peringatan ini bagi kami menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen, agar Polwan semakin hadir di tengah masyarakat dengan pelayanan yang humanis serta membantu menciptakan rasa aman dan nyaman,” ujarnya saat diwawancara RRI, Senin (01/09/2025).
Ia melanjutkan, Polwan memiliki peran penting di berbagai bidang, mulai dari pelayanan publik, lalu lintas, pembinaan masyarakat, hingga penanganan kasus perempuan dan anak. Kehadiran Polwan dinilai memberi dampak langsung, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan, anak, dan orang tua.
“Ketika masyarakat merasa dilayani dengan empati dan didampingi dalam situasi sulit, di situlah peran Polwan terasa nyata,” tambahnya. Namun, di balik tugas tersebut, ada tantangan yang tidak ringan.
Menurutnya, Polwan dituntut menyeimbangkan profesionalitas yang membutuhkan ketegasan dengan empati yang humanis. Bagi mereka yang telah berkeluarga, dilema semakin besar karena harus membagi peran sebagai aparat negara dan seorang ibu.
“Tantangan besar bagi kami adalah menjaga konsistensi dan semangat, sambil menyeimbangkan tugas di lapangan dengan peran di keluarga,” ungkapnya. Iptu Dhea menekankan, Polwan juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap Polri.
Melalui sikap tulus, ramah, dan profesional, Polwan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan institusi. “Pelayanan yang adil, transparan, dan humanis akan menumbuhkan kepercayaan masyarakat secara alami,” katanya.
Menutup refleksinya, Iptu Dhea menyampaikan pesan untuk generasi muda, khususnya perempuan, agar tidak ragu bercita-cita menjadi Polwan. Profesi ini, menurutnya, membuka ruang luas untuk mengabdi kepada bangsa sekaligus menjadi inspirasi.
“Persiapkan diri dengan disiplin, integritas, dan semangat belajar. Jangan ragu karena Polwan memiliki peluang besar untuk memberi manfaat, tetapi tetaplah rendah hati dan santun,” pungkasnya.