Gerak Bupati Malinau, Respon Penanganan Giram Sungai Bahau

  • 02 Jul 2025 10:12 WIB
  •  Malinau

KBRN, Malinau : Laporan dari wilayah Sungai Bahau pada 26 Juni 2025 siang memicu respons cepat dari Pemerintah Kabupaten Malinau. Akses sungai menuju pedalaman terganggu akibat timbunan longsor yang membentuk giram baru dan menyulitkan pergerakan longboat yang menjadi andalan masyarakat.

Rapat darurat segera digelar pada sore harinya. Sekitar pukul 04.00 WITA keesokan pagi, Bupati Malinau Wempi W. Mawa memimpin langsung rombongan menuju lokasi menggunakan dua unit longboat.

Tujuannya meninjau kondisi lapangan dan mengupayakan langkah penanganan darurat. Perjalanan menuju kawasan sekitar Desa Long Kemuat, Kecamatan Sungai Boh, memakan waktu hampir 11 jam.

Setibanya di lokasi sekitar pukul 14.30 WITA, tim segera memulai proses normalisasi aliran sungai. “Karena ini berhubungan dengan akses masyarakat, tidak ada pilihan lain, mereka pasti melewati jalur ini,” ujar Wempi saat ditemui pada Selasa (1/7/2025).

Berdasarkan informasi awal dari warga dan Kepala Adat yang telah lebih dahulu mengirimkan rekaman visual, longsor membawa material batu seberat 30–40 ton serta batang kayu besar. Tumpukan ini menciptakan giram baru di tengah sungai.

Namun penanganan tidak bisa dilakukan secara mekanis. Lokasi giram berada dalam areal izin perusahaan dan berjarak sekitar 50 kilometer dari jalur operasional.

Tidak ada jalan untuk mengakses lokasi dengan alat berat. “Alat berat tidak bisa masuk. Tidak ada jalan. Dan kawasan ini juga masuk dalam area kerja perusahaan. Kalau mau bawa alat berat, harus melalui proses perizinan,” terang Wempi.

Akhirnya, pembersihan dilakukan secara manual menggunakan tali dan jimlok. Beberapa petugas harus menyelam ke dasar sungai untuk mengikat batang kayu agar bisa ditarik ke permukaan.

“Ini menyangkut keselamatan orang juga yang melakukan kegiatan di situ. Menyelam dan memotong kayu dalam air tidak bisa sembarangan. Kalau salah, bisa celaka. Butuh keahlian khusus,” imbuhnya.

Pada hari pertama, tim fokus mengevakuasi batang kayu yang menyumbat badan sungai. Hari berikutnya dilanjutkan dengan pemotongan material yang menumpuk di pinggir aliran.

“Alhamdulillah, puji tuhan selesai. Mudah-mudahan walaupun sulit, warga tetap bisa lewat. Tapi dengan kapasitas sedikit dan tetap hati-hati,” ungkapnya.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keterhubungan logistik ke pedalaman. Pemerintah menyadari perlunya koordinasi lintas sektor agar jalur distribusi tetap terbuka di kawasan dengan kondisi geografis ekstrem.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....