Potensi Mebel Rotan Pulau Sapi, Satu Set Dibanderol Mulai Rp5,5 Juta

  • 01 Okt 2026 13:17 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Kerajinan mebel rotan di Desa Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau memiliki potensi pasar yang menjanjikan dengan permintaan yang stabil.
  • Pengrajin lokal seperti Dhoroteus memproduksi berbagai jenis mebel rotan termasuk kursi, sofa, rak, tempat televisi, dan keranjang dengan bahan baku lokal.
  • Sofa rotan adalah produk unggulan dan paling diminati oleh masyarakat dibandingkan produk kerajinan rotan lainnya saat ini.

RRI.CO.ID, Malinau - Kerajinan mebel berbahan rotan di Desa Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau, masih memiliki potensi pasar yang menjanjikan. Terlihat dari permintaan terhadap produk sofa rotan yang dibuat pengrajin setempat.

Pengrajin rotan di Pulau Sapi, Dhoroteus mengatakan, produk yang dibuatnya cukup beragam, mulai dari kursi, sofa, rak, tempat televisi hingga keranjang. Namun, untuk saat ini, sofa rotan menjadi produk yang paling banyak diminati masyarakat.

"Kalau di Malinau ini, saya lihat sofa begini yang orang paling suka," ujar Dhoroteus pada RRI, Kamis (1/10/2026) saat ditemui di Pulau Sapi.

Untuk satu set sofa rotan, harga yang ditawarkan mulai Rp5,5 juta. Harga tersebut menurutnya menjadi kisaran paling rendah untuk produk yang dibuatnya.

Dalam proses produksi, Dhoroteus bersama seorang rekannya membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk menyelesaikan satu set sofa hingga tahap finishing.

"Kami ini berdua orang satu minggu satu set. Sampai finishing, selesai," katanya.

Dalam satu set produk, kebutuhan bahan baku rotan mencapai sekitar 25 kilogram. Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 20 kilogram rotan jenis Lasio dan lima kilogram Fitrit.

Bahan baku tersebut diperoleh dari petani rotan di wilayah Semanggaris, Kecamatan Malinau Utara, Kabupaten Malinau.

Saat ini, kapasitas produksinya masih terbatas karena hanya dikerjakan oleh dua orang. Dalam satu bulan, rata-rata mereka menerima pesanan sekitar tiga set.

Produk mebel rotan yang dihasilkan kemudian dipasarkan ke sejumlah wilayah, termasuk kabupaten tetangga seperti Nunukan dan Tana Tidung.

Selain mebel, produk keranjang juga disebut memiliki pasar. Namun, permintaan terhadap keranjang cenderung bersifat musiman, terutama menjelang perayaan Natal dan Lebaran untuk kebutuhan parcel dan souvenir hari raya.

Menurut Dhoroteus, salah satu tantangan dalam mengembangkan usaha kerajinan rotan adalah masih adanya konsumen yang menawar produk dengan harga rendah tanpa mempertimbangkan proses pengerjaan dan nilai estetika dari kerajinan tersebut.

Ia berharap masyarakat semakin mencintai produk lokal dengan memilih mebel berbahan rotan hasil produksi pengrajin daerah.

"Kalau mebel rotan banyak orang beli, usaha-usaha UMKM itu bertahan. Itu harapan saya," ujarnya.

Dhoroteus juga berharap pemerintah dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha kerajinan rotan.

Menurutnya, semakin banyak pelaku yang menekuni usaha tersebut justru dapat mendorong persaingan yang sehat sekaligus memacu pengrajin untuk terus berinovasi menghasilkan produk baru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....