Harga Emas Antam Stagnan, Buyback Turun Rp52 Ribu per Gram

  • 25 Jun 2026 17:54 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Harga emas Antam tetap berada di level Rp2.655.000 per gram pada Kamis (25/6/2026), namun harga buyback turun Rp52.000 menjadi Rp2.320.000 per gram berdasarkan pembaruan pukul 08.40 WIB.
  • Investor emas di Malinau menilai pelemahan harga emas dunia dipengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga dan penguatan dolar AS, yang memberi tekanan terhadap harga logam mulia.

RRI.CO.ID, Malinau - Harga emas Antam bertahan di level Rp2.655.000 per gram pada Kamis (25/6/2026). Nilai tersebut tidak mengalami perubahan dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya.

Penurunan justru terjadi pada harga buyback atau nilai jual kembali emas ke Antam. Berdasarkan pembaruan pukul 08.40 WIB, harga buyback turun sebesar Rp52.000 per gram, mengantarkan harga buyback jatuh cukup dalam ke angka Rp2.320.000 per gram.

Kondisi tersebut menjadi perhatian para investor emas karena pergerakan harga jual dan buyback tidak bergerak searah seperti yang umum terjadi saat pasar mengalami tekanan.

Investor emas di Malinau, Yuli, menilai pergerakan harga emas hari ini cukup tidak biasa, di mana harga emas Antam masih bertahan meskipun harga emas dunia sedang mengalami pelemahan.

"Aneh banget hari ini harga emas Antam nggak turun padahal emas dunia lagi turun, merosot ke 3.983 dolar per troy ounce. Kalau nggak salah itu terendah selama tujuh bulan terakhir," kata Yuli, Kamis (25/6/2026).

Ia menanggapi, tekanan yang terjadi justru lebih terlihat pada harga buyback yang mengalami penurunan cukup besar dibandingkan harga jual emas.

"Yang turun justru buyback-nya. Jadi sekarang menurut saya yang bikin harga emas turun itu bukan lagi ketakutan akan inflasi," ujarnya.

Yuli menilai faktor utama yang memengaruhi pasar emas saat ini adalah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga global. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar Amerika Serikat dan memberi tekanan pada harga logam mulia.

"Tapi ekspektasi kenaikan bunga yang bikin dolar makin perkasa, sehingga melemahkan logam mulia," ucapnya.

Menurutnya, investor perlu mencermati perkembangan kebijakan moneter global dalam beberapa waktu ke depan karena berpotensi memengaruhi arah harga emas, baik di pasar internasional maupun domestik.

Meski demikian, Yuli menilai emas masih menjadi salah satu instrumen investasi yang menarik untuk jangka panjang, terutama sebagai aset lindung nilai saat terjadi ketidakpastian ekonomi. (Ading)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....