Harga Emas Antam Bangkit usai Tekanan Pasar

  • 01 Apr 2026 09:21 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Harga emas Antam naik Rp75.000 menjadi Rp2.902.000 per gram pada perdagangan Rabu pagi.
  • Harga buyback ikut menguat Rp110.000 ke level Rp2.587.000 per gram.
  • Investor menilai kenaikan ini mengurangi kekhawatiran setelah harga emas sempat turun beberapa pekan terakhir.

RRI.CO.ID, Malinau - Harga emas produksi PT Aneka Tambang (Antam) kembali menguat pada perdagangan Rabu (1/4/2026) pagi, setelah sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir.

Berdasarkan pembaruan pukul 08.43 WIB, harga emas Antam melonjak menjadi Rp2.902.000 per gram. Angka ini naik Rp75.000 dibanding harga sebelumnya yang berada di level Rp2.827.000 per gram. Sementara itu, harga buyback atau pembelian kembali oleh Antam juga mengalami kenaikan. Harga buyback tercatat berada di level Rp2.587.000 per gram atau naik Rp110.000.

Kenaikan ini menjadi kabar baik bagi sebagian investor yang sempat diliputi kekhawatiran akibat tren penurunan harga emas dalam beberapa waktu terakhir.

Investor emas di Malinau, Nurul, mengatakan pergerakan harga emas sebenarnya merupakan hal yang wajar dalam siklus investasi. Khususnya bagi investor yang berorientasi jangka panjang. “Bagi investor jangka panjang, naik atau turun sebenarnya tetap menjadi peluang. Kalau harga naik kita bisa menjual ketika tujuan investasi sudah tercapai, sementara saat harga turun justru bisa menjadi momentum untuk membeli,” ujarnya.

Menurutnya, lonjakan harga emas pada hari ini juga cukup melegakan bagi banyak investor yang sebelumnya diliputi keraguan terhadap prospek investasi emas.

“Kenaikan tajam hari ini tentu membuat banyak investor senang. Beberapa pekan terakhir sempat muncul kekhawatiran, apakah investasi emas masih aman karena ada yang membeli di harga puncak lalu harga justru turun,” katanya.

Ia menilai narasi kekhawatiran seperti itu sering muncul ketika pasar mengalami koreksi. Padahal, secara historis emas tetap dianggap sebagai instrumen investasi yang relatif aman dalam jangka panjang.

Nurul juga mengingatkan agar investor tidak mudah terbawa emosi pasar, terutama bagi investor pemula yang masih minim pengalaman.

“Sering kali investor baru justru membeli saat harga mahal karena FOMO. Sebaliknya ketika harga turun mereka malah menjual karena takut harga jatuh lebih dalam,” ucapnya. (Ading)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....