Festival Budaya Sumingkawot Resmi Ditutup
- 20 Sep 2026 21:39 WIB
- Malinau
RRI.CO.ID, Malinau - Festival Budaya Sumingkawot resmi ditutup, Sabtu (19/9/2026), di Balai Adat Desa Salap, Kecamatan Malinau Utara, Kabupaten Malinau.
Festival yang mengangkat permainan tradisional masyarakat Dayak Tahol tersebut menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal, memainkan sekaligus menjaga warisan budaya leluhur.
Penutupan festival berlangsung meriah dengan agenda final pertandingan Sumingkawot dan fashion show bernuansa budaya Dayak Tahol. Kegiatan juga dimeriahkan penampilan sejumlah artis Tahol.
Penanggung jawab kegiatan, Wiliam Gerson, mengatakan Festival Budaya Sumingkawot berawal dari gagasan untuk membuat dokumenter mengenai permainan tradisional tersebut sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan tradisi masyarakat Dayak Tahol.
Namun, dalam prosesnya, gagasan tersebut berkembang menjadi kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat secara langsung melalui pertandingan Sumingkawot.
“Awalnya kami hanya ingin membuat dokumenter tentang Sumingkawot. Tetapi dalam prosesnya kami melihat bahwa tradisi ini perlu tidak hanya direkam, tetapi juga dimainkan dan diperkenalkan kembali. Dari situlah kemudian lahir gagasan untuk menjadikannya sebuah pertandingan,” ujar Wiliam.
Menurutnya, antusiasme masyarakat selama festival menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki ruang untuk terus dikembangkan apabila dikemas secara menarik dan melibatkan generasi muda.
Festival ini juga diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan perdana, tetapi dapat berkembang menjadi agenda budaya tahunan di Kabupaten Malinau. Selain menjadi sarana pelestarian budaya, Sumingkawot diharapkan dapat diperkenalkan sebagai salah satu bentuk olahraga tradisional masyarakat.
Selain permainan tradisional, festival turut memperkuat identitas budaya Dayak Tahol melalui seni, busana, musik, serta keterlibatan para pelaku budaya dan generasi muda.
“Harapan kami, Sumingkawot tidak hanya dikenal pada saat festival ini saja. Kami ingin anak-anak muda mengenal permainan ini, mempelajarinya, dan suatu saat dapat mewariskannya kepada generasi berikutnya,” lanjut Wiliam.
Pelaksanaan festival juga menjadi momentum untuk melihat potensi Balai Adat Desa Salap dan lingkungan sekitarnya sebagai pusat kegiatan budaya masyarakat. Sarana tersebut dinilai masih memerlukan peningkatan dan pembenahan agar dapat mendukung berbagai kegiatan budaya di masa mendatang.
Dengan berakhirnya Festival Budaya Sumingkawot 2026, panitia berharap semangat pelestarian budaya dapat terus dilanjutkan, tidak hanya melalui penyelenggaraan festival, tetapi juga melalui transfer pengetahuan dari para tetua adat kepada generasi muda.
Sumingkawot bukan sekadar permainan untuk menentukan siapa yang mampu melompat paling tinggi. Lebih dari itu, Sumingkawot menjadi bagian dari upaya mengenalkan akar budaya, mewariskan pengetahuan leluhur, serta menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Sumingkawot, meloncat menjaga budaya.”
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....