Penanganan Longsor Apau Ping Ditarget Rampung November 2026

  • 19 Jun 2026 23:50 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Penanganan longsor yang mengancam permukiman warga di Desa Apau Ping ditargetkan rampung paling lambat 30 November 2026 dengan durasi pekerjaan sekitar tiga bulan.
  • Dari sekitar 500 meter tebing yang berpotensi longsor, penanganan tahun ini diprioritaskan pada 188 meter titik yang dinilai paling kritis yang mengancam belasan rumah warga.

RRI.CO.ID, Malinau - Penanganan longsor yang mengancam permukiman warga di bantaran Sungai Bahau, Desa Apau Ping, Kecamatan Bahau Hulu, ditargetkan selesai pada November 2026, dengan estimasi waktu pengerjaan selama tiga bulan setelah pekerjaan dimulai.

Pemerintah Kabupaten Malinau melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPR-Perkim) saat ini masih menunggu proses lelang rampung sebelum pekerjaan dilaksanakan di lapangan.

Kepala Dinas PUPR-Perkim Malinau, Yaftha Lasung, mengatakan penyelesaian pekerjaan ditargetkan paling lambat pada 30 November 2026. "Target kita maksimal 30 November sudah selesai," katanya beberapa waktu lalu.

Menurut Yaftha, proses pengadaan sempat mengalami penyesuaian akibat perubahan biaya angkut material menuju lokasi pekerjaan di wilayah pedalaman setelah kenaikan harga bahan bakar. "Dokumen-dokumen tender kami sesuaikan kembali karena ada perubahan biaya angkut material," ujarnya.

Dinas PUPR-Perkim mengidentifikasi sekitar 500 meter tebing di kawasan tersebut berpotensi mengalami erosi apabila debit Sungai Bahau meningkat saat musim hujan atau cuaca ekstrem.

Namun, keterbatasan anggaran membuat penanganan tahun ini diprioritaskan pada sekitar 188 meter titik yang dinilai paling kritis.

Pemerintah daerah berencana memperkuat tebing menggunakan konstruksi bronjong guna mencegah longsor susulan yang dapat mengancam permukiman warga.

Yaftha menambahkan distribusi material menuju lokasi menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan proyek tersebut. "Perkiraan kita, perlu waktu satu bulan untuk angkut material saja," katanya.

Dari Malinau menuju Lejuk dan Pujungan, material masih dapat diangkut menggunakan kendaraan darat. Selanjutnya material dibawa menggunakan ketinting menuju Apau Ping dan dipindahkan secara manual di titik Giram Nta' Liang sebelum diteruskan ke lokasi pekerjaan.

Untuk penanganan sepanjang 188 meter tersebut dibutuhkan sekitar 752 lembar bronjong dengan total berat mencapai sekitar 11 ton.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Apau Ping, Yakub Jalung, mengatakan sedikitnya 14 rumah warga berada dalam kawasan yang terdampak risiko longsor.

"Kalau yang paling dekat dengan tepi sungai atau titik longsor itu ada empat rumah. Jaraknya tinggal tiga sampai empat meter," ungkapnya.

Selain itu, sekitar 10 rumah di kawasan hilir lainnya juga berisiko terdampak apabila terjadi longsor susulan yang dipicu banjir.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....