Akses Tak Memadai, Warga Long Sule Tempuh Puluhan Kilometer Berjalan Kaki
- 18 Jun 2026 15:42 WIB
- Malinau
Poin Utama
- Sebanyak 53 warga Long Sule berjalan kaki sejauh 40 kilometer dengan waktu tempuh hingga tiga hari akibat keterbatasan akses transportasi.
- Warga harus melintasi sungai, rawa, dan perbukitan sebelum dilanjutkan menggunakan perahu dan truk menuju Mahak Baru.
RRI.CO.ID, Malinau - Sebanyak 53 warga Desa Long Sule, Kecamatan Kayan Hilir, terpaksa berjalan kaki sekitar 40 kilometer menuju Long Top akibat keterbatasan akses transportasi. Perjalanan tersebut memakan waktu dua hingga tiga hari dengan medan yang didominasi hutan, rawa, sungai kecil, serta perbukitan.
Kepala Desa Long Sule, Jarod Irei, mengatakan rombongan mulai berangkat dalam beberapa kelompok untuk mengejar jadwal kegiatan yang akan mereka hadiri di Desa Mahak Baru, Kecamatan Sungai Boh, wilayah Apau Kayan.
"Kurang lebih ada 53 orang yang berjalan kaki. Mereka berangkat dari Long Sule sekitar dua hari yang lalu menuju Long Top dengan jarak sekitar 40 kilometer, sore ini kita perkirakan sudah saampai," kata Jarod kepada pada RRI, Rabu (17/6/2026) siang.
Menurutnya, keputusan berjalan kaki diambil setelah kuota penerbangan yang diajukan tidak mampu mengakomodasi seluruh peserta. Anak-anak diprioritaskan menggunakan pesawat, sedangkan peserta laki-laki dewasa harus menempuh jalur darat.
Perjalanan dari Long Sule menuju Long Top tidak dapat dilalui kendaraan. Meski pemerintah telah membuka badan jalan sejak 2022, kondisi jalur hingga kini belum memungkinkan untuk dilewati sepeda motor maupun mobil, sehingga berjalan kaki menjadi satu-satunya opsi bagi warga untuk berbagai keperluan.
"Yang bisa melintas hanya alat berat seperti ekskavator dan traktor. Untuk masyarakat masih harus berjalan kaki, dan ini satu-satunya akses," ujarnya.
Selain jarak yang cukup jauh, rombongan juga menghadapi tantangan cuaca. Musim hujan membuat jalur menjadi licin dan lebih sulit dilalui, terutama pada kawasan rawa dan tanjakan.
Jarod menjelaskan, sepanjang perjalanan warga harus menyeberangi sejumlah anak sungai, melewati rawa-rawa, serta naik turun perbukitan yang cukup terjal. Kondisi tersebut menyebabkan waktu tempuh bisa mencapai tiga hari untuk rombongan dalam jumlah besar.
Dari Long Top, Kecamatan Sungai Boh, rombongan sudah bisa melanjutkan perjalanan melalui jalur sungai menggunakan perahu, lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan truk menuju Mahak Baru.
Kondisi ini menunjukkan masih terbatasnya akses transportasi dari dan menuju Long Sule. Hingga kini, kampung tersebut menjadi salah satu wilayah di Apau Kayan yang belum memiliki akses jalan yang dapat dilalui kendaraan secara normal.
"Kami berharap pembangunan jalan yang sudah pernah dibuka dapat dilanjutkan sehingga akses masyarakat menjadi lebih mudah," katanya.
Puluhan warga tersebut diketahui sedang menuju Mahak Baru untuk mengikuti Konferensi Daerah Apau Kayan GKII yang digelar lima tahun sekali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....