Penanganan Longsor Apau Ping Prioritaskan 188 Meter Titik Kritis
- 11 Jun 2026 22:43 WIB
- Malinau
Poin Utama
- Pemkab Malinau memprioritaskan penanganan 188 meter titik paling kritis dari total sekitar 500 meter tebing Sungai Bahau yang teridentifikasi perlu diamankan.
- Longsor di Apau Ping semakin mengancam permukiman warga, empat rumah berada di zona paling terdampak, sementara delapan hingga sepuluh rumah lainnya berpotensi terancam jika banjir besar dan longsor susulan kembali terjadi.
RRI.CO.ID, Malinau - Penanganan pada titik-titik paling kritis akan diprioritaskan dalam upaya mengatasi longsor di bantaran Sungai Bahau, Desa Apau Ping, Kecamatan Bahau Hulu. Langkah ini diambil karena keterbatasan anggaran yang belum memungkinkan seluruh area rawan longsor ditangani sekaligus.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Kawasan Permukiman (PUPR-PERKIM) Kabupaten Malinau, Yaftha Lasung, mengatakan hasil identifikasi menunjukkan panjang tebing sungai yang perlu diamankan mencapai sekitar 500 meter. Namun, alokasi anggaran tahun ini hanya mampu membiayai penanganan sepanjang 188 meter.
"Dari teman-teman SDA, identifikasinya ada 500 meter kondisi tebing yang harus diamankan. Cuma dengan alokasi yang ada, kita hanya bisa menangani 188 meter. Nanti dipilih betul-betul titik yang kritis," ujarnya kepada RRI, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, lokasi longsor yang berada di ketinggian tebing dan kedekatan dengan rumah warga menjadi pertimbangan pemerintah daerah untuk mengambil langkah perkuatan melalui pengadaan kegiatan dengan proses lelang.
“Pemerintah sebenarnya sejak awal ingin melakukan penanganan cepat menggunakan alat berat yang tersedia di Apau Ping. Namun kalau kita gerakkan tanpa ada perkuatan, khawatirnya malah lebih cepat terjadi longsor. Karena itu pilihannya harus menggunakan bronjong sebagai perkuatan," katanya.
Ia mengatakan dokumen tender kini telah berada di Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ) untuk melalui proses peninjauan sebelum ditayangkan kembali. Penyesuaian dokumen dilakukan menyusul kenaikan biaya angkut material menuju wilayah pedalaman.
"Prosesnya sekarang sudah ada di BPBJ, tinggal review kemudian tayang. Memang kemarin ada penyesuaian karena kenaikan harga, terutama biaya angkut material ke Apau Ping karena kenaikan harga BBM waktu itu,” ucapnya.
Tantangan terbesar, lanjut Yaftha, terletak pada distribusi material bronjong menuju lokasi pekerjaan. Material harus diangkut secara bertahap menggunakan berbagai moda transportasi dengan kapasitas terbatas.
Dari Malinau menuju Lejuk dan Pujungan, material masih dapat dibawa menggunakan kendaraan darat. Setelah itu, pengangkutan dilanjutkan memakai ketinting berkapasitas sekitar 500 kilogram menuju Apau Ping, disertai pemindahan manual di titik Giram Nta' Liang sebelum kembali dibawa ke desa tujuan.
Untuk penanganan sepanjang 188 meter tersebut dibutuhkan sekitar 752 lembar bronjong dengan total berat mencapai sekitar 11 ton. Proses pengangkutan diperkirakan memerlukan waktu hampir satu bulan, sedangkan pelaksanaan pekerjaan ditargetkan selesai paling lambat 30 November 2026.
Yaftha berharap masyarakat dapat terlibat sebagai tenaga kerja lokal agar proses pemasangan berjalan lebih cepat. “Kalau masyarakat terlibat, tentu sangat membantu, karena di sana kan tidak seperti di sini yang tenaga kerjanya tersedia. Yang teknis dikerjakan penyedia, sementara pengisian bronjong dan pengumpulan batu bisa melibatkan warga setempat," katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Apau Ping, Yakub Jalung, mengatakan kondisi longsor terbaru semakin mendekati kawasan permukiman. Pergerakan tanah yang terjadi pada akhir Mei 2026 membuat jarak antara tebing sungai dan rumah warga tersisa sekitar tiga hingga empat meter.
"Jaraknya kurang lebih tinggal tiga sampai empat meter dari rumah yang paling dekat. Sedikitnya empat rumah berada pada zona paling terdampak, delapan hingga sepuluh rumah lainnya berpotensi terancam apabila banjir besar kembali terjadi dan longsoran terus meluas ke bagian hilir,” ujarnya.
Ia menambahkan, warga yang tinggal di sekitar lokasi kini diliputi kekhawatiran setiap kali hujan deras turun. Sebagian memilih mengungsi sementara ke rumah kerabat atau tetangga saat debit Sungai Bahau meningkat.
"Kami berharap penanganan ini bisa segera direalisasikan agar masyarakat merasa lebih aman dan tidak terus dihantui kekhawatiran ketika musim hujan datang," kata Yakub.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....