Distribusi Terganggu, Bahau Hulu Terancam Kelangkaan Bahan Pokok
- 04 Jul 2025 15:30 WIB
- Malinau
KBRN, Malinau : Aktivitas pengangkutan barang dari dan menuju Kecamatan Bahau Hulu, saat ini mengalami gangguan serius akibat terbentuknya giram baru Nda'Liang di Sungai Bahau. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan kelangkaan bahan pokok, bahan bakar minyak (BBM), serta barang kebutuhan lainnya dalam waktu dekat.
Camat Bahau Hulu, Victor Romawan, mengatakan saat ini memang belum terjadi lonjakan harga barang, namun potensi kenaikannya sangat besar. Situasi ini dipicu oleh kekhawatiran para motoris longboat terhadap kondisi giram yang dinilai memiliki risiko tinggi untuk dilalui.
"Longboat dari Bahau tidak ada aktivitas ke Tanjung Selor. Banyak motoris ragu melewati giram karena sangat berisiko. Kalau tidak ada pasokan masuk, pasti akan terjadi kelangkaan sembako, BBM, dan barang-barang lain," ujarnya.
Victor menjelaskan, dampak awal dari gangguan distribusi ini kemungkinan besar akan terlihat dari kenaikan ongkos pengangkutan. Para motoris diperkirakan akan menaikkan tarif jasa mereka, seiring meningkatnya waktu tempuh dan beban risiko dalam pengangkutan.
“Pasti akan diawali dengan naiknya permintaan biaya motoris, dan ini akan berdampak langsung pada harga barang. Pengusaha longboat di sini juga harus menempuh waktu lebih lama dari biasanya,” jelasnya.
Bahau Hulu merupakan salah satu wilayah di pedalaman Malinau yang sangat bergantung pada transportasi sungai untuk pasokan logistik. Dalam kondisi normal, pengiriman barang menggunakan longboat dari Tanjung Selor menjadi jalur satu-satunya untuk mendistribusikan kebutuhan pokok.
Kondisi sebelumnya jauh lebih parah, hingga rombongan pemerintah daerah bersama sejumlah pihak terkait yang dipimpin langsung oleh Bupati Malinau turun ke lapangan membersihkan material longsor yang menutup lintasan longboat di jalur sungai Bahau pada titik giram tersebut. Penanganan darurat memungkinkan longboat kembali bisa melintas, meski dengan batasan tertentu.
Jika sebelumnya jalur tersebut tidak dapat dilalui sama sekali, kini hanya longboat bermesin 4–5 yang mampu menembusnya, itupun dengan muatan maksimal 1,5 ton, jauh berkurang dari kapasitas normal 4–5 ton. Akibat keterbatasan itu, barang-barang bawaan harus dibongkar terlebih dahulu untuk mengurangi beban agar longboat bisa melewati giram yang deras dan berbahaya.
Sisa barang kemudian diangkut dengan berjalan kaki melewati medan berbukit kurang-lebih 350 meter, atau menunggu longboat kosong kembali ke titik pembongkaran untuk mengangkut sisanya. Skema ini membuat proses distribusi menjadi lebih lama, berat, dan tetap berisiko tinggi bagi motoris maupun masyarakat yang menggantungkan hidup pada kelancaran pasokan logistik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....