Leeno’ Alin Waan Taman Raah, Prosesi Penyambutan Khas Dayak Sa’ban
- 07 Sep 2026 19:16 WIB
- Malinau
Poin Utama
- Masyarakat Dayak Sa'ban mempertahankan prosesi leeno' alin waan taman raah sebagai ritual adat untuk membersihkan jalan bagi kedatangan tamu besar.
- Ritual ini merupakan salah satu bukti dari kekayaan budaya, adat-istiadat, dan tradisi yang dimiliki masyarakat Sa'ban di Malinau.
- Prosesi dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada pemimpin dan harapan agar tamu yang datang berada dalam keadaan aman selama berada di wilayah Sa'ban.
RRI.CO.ID, Malinau - Masyarakat Dayak Sa’ban memiliki prosesi leeno’ alin waan taman raah, yakni ritual adat untuk membersihkan jalan bagi kedatangan tamu besar. Prosesi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada pemimpin sekaligus harapan agar tamu yang datang berada dalam keadaan aman selama berada di wilayah Sa’ban.
Prosesi tersebut digelar saat menyambut rombongan Pangdam VI/Mulawarman Mayor Jenderal Krido Pramono di Kabupaten Malinau, Selasa (1/9/2026). Rombongan disambut Wakil Bupati Malinau Jakaria bersama jajaran Pemerintah Daerah di Pelabuhan Speedboat Malinau.
Pantauan RRI, prosesi dimulai ketika rombongan tiba di pintu kedatangan pelabuhan. Para tokoh dan tetua adat Dayak Sa’ban berdiri dari arah berlawanan dengan mengenakan pakaian tradisional.
Penyambutan diawali lantunan doa dan pengharapan keselamatan dalam bahasa Sa’ban. Selanjutnya, salah satu tetua adat mengambil air dari sebuah wadah yang dipegang tokoh adat lainnya menggunakan daun pandan atau lontar.
Air tersebut kemudian dipercikkan di sekitar atau di hadapan rombongan. Barulah rombongan dipersilakan melanjutkan perjalanan keluar dari pintu kedatangan pelabuhan, diiringi tarian perang.
Ketua Lembaga Adat Sa’ban Kabupaten Malinau, Johnson Pawang, menjelaskan tradisi tersebut telah dilakukan sejak masa lalu ketika pemimpin suatu kelompok berkunjung ke wilayah kelompok lainnya.
“Dulu di zaman dulu kan ada pemimpin-pemimpin kelompok masing-masing. Kalau datang berkunjung ke daerah lain, prosesi yang dilakukan biasanya dalam rangka kita menghormati seorang pemimpin besar,” ujar Johnson kepada RRI.
Menurut Johnson, tarian dalam prosesi tersebut menggambarkan sukacita atas kedatangan tamu. Sementara parang atau pedang yang digunakan dalam tarian tidak dimaksudkan sebagai perlengkapan untuk berperang.
“Tarian itu menandakan sukacita. Kalau pedang-pedang itu artinya bukan untuk berperang. Gambaran berperang, tapi ini sebagai pengaman,” jelasnya.
Perlengkapan perang dalam tarian menggambarkan fungsi pengamanan suasana selama prosesi penyambutan. Simbol tersebut berkaitan dengan harapan agar tamu yang datang mendapat perlindungan selama berada di daerah tersebut.
Air yang dipercikkan dalam prosesi juga memiliki makna khusus. Johnson menjelaskan, air digunakan sebagai simbol membersihkan jalan yang akan dilalui tamu agar perjalanan dan keberadaannya di wilayah tersebut berlangsung aman.
“Makna air itu membersihkan jalan tamu yang datang ke daerah kita, supaya aman,” katanya.
Setiap bagian dalam leeno’ alin waan taman raah memiliki makna tersendiri. Doa menjadi pengharapan keselamatan, percikan air menjadi simbol pembersihan jalan, sedangkan tarian dan perlengkapan perang menjadi simbol sukacita sekaligus pengamanan.
Tradisi tersebut berakar pada kebiasaan masyarakat Sa’ban pada masa lalu dalam menyambut kedatangan pemimpin dari kelompok lain.
Hingga kini, prosesi tetap digunakan dalam penyambutan tamu penting sebagai bagian dari penghormatan terhadap tamu dan pemeliharaan adat Dayak Sa’ban, sekaligus bukti kekayaan budaya dan adat-istiadat serta tradisi masyarakat di Malinau. (Ading)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....