Mengulik Tradisi Mandi Salamun dalam Budaya Tidung

  • 13 Agt 2026 16:58 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Mandi salamun adalah tradisi penutup dari rangkaian Berebu Pagun Safar (doa tolak bala) yang khas bagi masyarakat Tidung.
  • Prosesi tersebut mencakup berkumpulnya masyarakat di lapangan terbuka, doa bersama dipimpin kaum alim ulama, makan bersama, dan mandi salamun.
  • Tradisi ini menyimpan makna mendalam tentang ikhtiar, doa, serta harapan akan keselamatan dan kebaikan bagi masyarakat yang melakukannya.

RRI.CO.ID, Malinau - Tradisi Mandi Salamun menjadi salah satu bagian dari warisan budaya masyarakat Tidung. Di balik prosesi sederhana berupa siraman air yang dilengkapi dengan rangkaian doa dan bunga-bungaan, tradisi ini menyimpan makna tentang ikhtiar, doa, serta harapan akan keselamatan dan kebaikan.

‎Mandi salamun umumnya menjadi penutup dari rangkaian tradisi Berebu Pagun Safar atau doa tolak bala khas Tidung. Tradisi ini ditandai dengan berkumpulnya masyarakat di lapangan terbuka, berdoa bersama dipimpin kaum alim ulama, makan bersama, dan terakhir mandi salamun.

‎Haji Basri, tokoh sekaligus tetua adat Tidung Kabupaten Malinau, saat ditemui dalam momen Berebu Pagun Safar di Malinau Kota pada Rabu (12/8/2026) menjelaskan, mandi salamun berkaitan erat dengan kebiasaan leluhur masyarakat Tidung dalam menyambut maupun mengakhiri bulan Safar.

‎Menurutnya, masyarakat terdahulu meyakini adanya waktu-waktu tertentu pada bulan Safar yang dikaitkan dengan turunnya bala atau berbagai macam musibah. Karena itu, tradisi tolak bala dilakukan sebagai bentuk ikhtiar yang disertai doa kepada Allah SWT.

‎Ia menerangkan, tradisi tersebut dapat dilakukan pada Rabu pertama maupun terakhir di bulan Safar dalam kalender hijriah sebagai bagian dari ikhtiar untuk memohon perlindungan. “Orang Tidung khususnya, karena mengingat itu mungkin turunnya di akhir bulan Safar, alangkah baiknya kita cegah juga di awal bulan Safar,” ujar Haji Basri.

‎Salah satu bagian penting dalam prosesi tersebut adalah pembacaan doa Salamun yang kemudian menjadi dasar penyebutan mandi salamun. Orang yang menjalani prosesi mandi salamun kemudian disiram air sebanyak tiga kali.

‎Siraman dilakukan sebagai bagian dari rangkaian ritual yang disertai dengan pembacaan doa. Bagi masyarakat yang masih menjalankan tradisi tersebut, mandi salamun tidak semata-mata dipahami sebagai aktivitas membersihkan tubuh.

‎Ada harapan yang disematkan dalam setiap doa, mulai dari kesehatan, kelancaran rezeki hingga kemudahan dalam urusan jodoh. Haji Basri mengatakan, Mandi Salamun juga menjadi ruang untuk memanjatkan harapan kepada Allah SWT.

‎“Yang sakit, insya Allah mudah-mudahan cepat disembuhkan. Yang katanya belum dapat jodoh, insya Allah dapat jodoh. Yang belum ketemu rezeki, ya mudah-mudahan diberikan rezeki,” tuturnya.

‎Hal lain yang tidak kalah menarik dalam tradisi tersebut adalah penggunaan bunga-bungaan dalam air yang digunakan untuk mandi. Menurut Haji Basri, bunga dipilih karena memiliki aroma harum.

‎Penggunaan bunga mengandung simbol harapan agar tubuh orang yang menjalani prosesi Mandi Salamun turut membawa keharuman. Aroma bunga juga dimaknai sebagai upaya menghilangkan bau atau aroma yang tidak sedap pada tubuh.

‎“Bunga-bunga itu kan wangi-wangi. Yang diharapkan, semoga badan orang yang dimandikan dengan aroma-aroma bunga itu semoga begitu juga, wangi,” katanya.

‎Dengan demikian, dalam tradisi mandi salamun terdapat perpaduan antara doa, simbol, dan warisan kebiasaan leluhur yang terus dikenang masyarakat Tidung.

‎Bagi generasi sekarang, tradisi tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Tidung memaknai pergantian waktu, khususnya bulan Safar, melalui doa dan ikhtiar untuk memohon keselamatan serta kebaikan.

‎Mandi salamun pada akhirnya menjadi salah satu jejak tradisi yang memperlihatkan hubungan erat antara warisan leluhur, nilai-nilai spiritual, dan harapan masyarakat Tidung terhadap kehidupan yang lebih baik. (Ading)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....