Tradisi Berebu Pagun Safar Diusulkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda

  • 12 Agt 2026 14:41 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Tradisi Berebu Pagun Safar masyarakat Tidung di Kabupaten Malinau diusulkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda Malinau untuk pelestarian tradisi turun-temurun.
  • Berebu Pagun Safar adalah kegiatan pembacaan doa selamat dan doa tolak bala secara bersama-sama yang dipimpin oleh alim ulama.
  • Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar sebagai bagian dari praktik keagamaan masyarakat lokal.

RRI.CO.ID, Malinau: Tradisi Berebu Pagun Safar masyarakat Tidung di Kabupaten Malinau diusulkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda Malinau. Upaya tersebut menjadi bagian dari pelestarian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.

Berebu Pagun Safar merupakan kegiatan pembacaan doa selamat dan doa tolak bala secara bersama-sama oleh masyarakat di satu tempat, yang dipimpin para alim ulama. Biasanya dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar.

Doa tersebut dipanjatkan sebagai ikhtiar agar masyarakat, wilayah tempat tinggal, keluarga, dan lingkungan sekitar senantiasa diberikan keselamatan serta terhindar dari mara bahaya, bencana dan musibah.

Camat Malinau Kota, Muhammad Yusuf mengatakan, Berebu Pagun Safar memiliki nilai budaya dan keagamaan yang kuat karena hingga kini masih lestari. Menurutnya, keberlangsungan tradisi tersebut penting dijaga agar masyarakat, khususnya generasi muda, tetap mengenal kebudayaan yang diwariskan para leluhur masyarakat Tidung.

“Ini merupakan kegiatan pelestarian tradisi dan budaya yang ada di Kabupaten Malinau, khususnya di Kecamatan Malinau Kota, lebih khusus lagi warga masyarakat Tidung dan Bulungan di setiap akhir bulan Safar,” kata Yusuf saat ditemui dalam kegiatan Berebu Pagun Safar di Sentra UMKM Malinau Kota, Rabu (12/8/2026).

Tentunya Berebu Pagun Safar tidak sekadar kegiatan berkumpul masyarakat. Di dalamnya terdapat sejumlah prosesi yang memiliki makna sosial dan keagamaan, mulai dari pembacaan doa selamat dan tolak bala hingga makan bersama dan Mandi Salamun.

Rangkaian kegiatan diawali dengan masyarakat berkumpul di satu tempat, umumnya lapangan terbuka. Selanjutnya, pejabat, tokoh masyarakat maupun para sesepuh menyampaikan arahan.

Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa selamat dan doa tolak bala yang dipimpin para alim ulama. Nilai kebersamaan kemudian terlihat dalam prosesi makan bersama.

Lalu berikutnya adalah Mandi Salamun. Prosesi ini dilakukan secara sukarela oleh masyarakat yang ingin mengikutinya dan dipimpin oleh para alim ulama dengan disertai doa.

Yusuf menilai rangkaian prosesi tersebut menunjukkan bahwa Berebu Pagun Safar memiliki kekayaan nilai yang layak dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Para generasi muda kita tahu bahwa ada satu kegiatan, kebudayaan, sebuah tradisi, juga keagamaan yang dilaksanakan di Kecamatan Malinau Kota sejak dahulu oleh para leluhur kita,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelestarian Berebu Pagun Safar juga penting karena tradisi tersebut menjadi wadah silaturahmi antarkeluarga dan masyarakat, sekaligus memperkuat rasa persaudaraan, kekeluargaan dan kebersamaan.

Dengan nilai sejarah, sosial, keagamaan dan budaya yang terkandung di dalamnya, Berebu Pagun Safar telah diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Malinau. Tradisi tersebut juga telah masuk dalam Kalender Event Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malinau. (Ading)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....