Berebu Pagun Safar Masuk Kalender Event Pariwisata Malinau
- 12 Agt 2026 14:42 WIB
- Malinau
Poin Utama
- Tradisi Berebu Pagun Safar masyarakat Tidung telah secara resmi masuk dalam Kalender Event Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malinau.
- Pelaksanaan tradisi ini dilakukan secara rutin setiap Rabu terakhir bulan Safar oleh masyarakat setempat, khususnya warga Tidung.
- Camat Malinau Kota Muhammad Yusuf menyatakan bahwa upaya ini merupakan bentuk pelestarian warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun oleh leluhur masyarakat Tidung.
RRI.CO.ID, Malinau: Tradisi Berebu Pagun Safar masyarakat Tidung kini masuk dalam Kalender Event Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malinau. Tradisi tersebut dilaksanakan secara rutin setiap Rabu terakhir bulan Safar, termasuk oleh Kecamatan Malinau Kota pada tahun ini.
Camat Malinau Kota, Muhammad Yusuf mengatakan, pelaksanaan Berebu Pagun Safar merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kecamatan menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur masyarakat Tidung.
“Berebu Pagun Safar ini dilaksanakan secara rutin oleh Kecamatan Malinau Kota setiap tahun. Kegiatan ini juga telah masuk dalam Kalender of Events Dinas Pariwisata Kabupaten Malinau,” ujar Muhammad Yusuf.
Berebu Pagun Safar pada dasarnya merupakan ikhtiar bersama masyarakat untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari Allah SWT melalui pelaksanaan doa selamat dan tolak bala yang dipimpin para alim ulama.
Pelaksanaan Berebu Pagun Safar tahun 1448 Hijriah oleh Pemerintah Kecamatan Malinau Kota digelar pada Rabu (12/8/2026) di Sentra UMKM Malinau Kota. Pantauan RRI, masyarakat berkumpul membawa makanan atau kuliner dari rumah masing-masing.
Kegiatan inti diawali dengan penyampaian arahan dari pejabat, tokoh masyarakat maupun para sesepuh. Rangkaian dilanjutkan dengan pembacaan doa selamat dan doa tolak bala yang dipimpin para alim ulama bersama masyarakat yang hadir.
Salah satu bagian yang menjadi ciri khas kegiatan tersebut adalah makan bersama. Makanan tidak disiapkan secara khusus oleh panitia, tetapi dibawa sendiri oleh warga untuk kemudian dibagikan dan ditukar dengan makanan yang dibawa warga lainnya.
“Selain berbagi, juga dilakukan tukar-menukar makanan atau kuliner di antara sesama warga masyarakat yang hadir. Sehingga kemudian ini menimbulkan atau menghadirkan sebuah keharmonisan,” jelasnya.
Rangkaian ditutup dengan prosesi Mandi Salamun yang dipimpin para alim ulama. Pada prosesi kali ini tersedia tiga bak air yang telah ditaburi bunga-bungan, kemudian masyarakat maju secara suka rela bagi yang menginginkannya.
Secara filosofis, Mandi Salamun berarti membersihkan diri dari segala bahaya, takdir buruk, dan hal-hal tak diinginkan yang melekat dalam pribadi seseorang. Masyarakat dari yang tua hingga muda dapat berpartisipasi.
Menurut Yusuf, keberadaan Berebu Pagun Safar dalam Kalender Event daerah menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi masyarakat Tidung. Ia berharap generasi muda dapat mengenal dan memahami tradisi yang telah diwariskan para leluhur, termasuk nilai silaturahmi, kebersamaan dan berbagi yang terkandung di dalamnya. (Ading)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....