Makna Ketupat, Ketan dan Telur “Penduduk” dalam Tolak Bala Suku Tidung
- 12 Agt 2026 19:35 WIB
- Malinau
RRI.CO.ID, Malinau : Tradisi doa tolak bala pada bulan Safar masih dilestarikan oleh sebagian masyarakat Suku Tidung di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara). Selain doa bersama, tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini juga memiliki sajian khas berupa ketupat, ketan, dan telur oleh masyarakat Tidung disebut “penduduk”.
Setiap sajian memiliki makna tersendiri dan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tradisi. Ketupat, misalnya, tidak hanya dipandang sebagai makanan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan permohonan agar masyarakat terhindar dari berbagai marabahaya.
Sementara, ketan menjadi salah satu sajian yang dianggap wajib dalam tradisi tersebut. Dalam pemaknaan masyarakat, sifat ketan yang lengket menggambarkan eratnya hubungan silaturahmi, persaudaraan, serta harapan agar masyarakat tetap bersatu dan saling membantu.
Adapun telur yang disebut masyarakat Tidung sebagai “penduduk” juga memiliki makna simbolis. Telur yang bentuknya utuh dan memiliki bagian putih serta kuning di dalamnya dimaknai sebagai lambang kehidupan, kesempurnaan, dan harapan. Tujuannya agar kehidupan masyarakat senantiasa berada dalam keadaan baik dan dilindungi dari berbagai musibah.
Tokoh masyarakat Suku Tidung, Juraidah, menjelaskan bahwa keberadaan makanan dalam tradisi tolak bala bukan sekadar hidangan untuk dinikmati bersama. Di dalamnya terdapat pesan budaya dan nilai kebersamaan yang diwariskan oleh para leluhur.
Menurutnya, tradisi tersebut juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi antarmasyarakat. Sekaligus mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan budaya dan adat istiadat yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tidung.
Meski pelaksanaannya dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman, nilai utama tradisi tetap dipertahankan, yakni doa bersama maupun memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai marabahaya.
Tradisi bebaca doa tolak bala pada bulan Safar menjadi salah satu bentuk kekayaan budaya masyarakat Tidung di Kaltara. Pelestarian tradisi ini tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, dan kehidupan sosial masyarakat. (Diana)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....