Kisah Pengabdian Nakes di Pedalaman Malinau

  • 18 Mar 2026 07:43 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Pengabdian tenaga kesehatan di pedalaman Malinau penuh tantangan.
  • Medan berat: sungai deras, cuaca tak menentu, dan keterbatasan transportasi.
  • Nakes tetap menjalankan pelayanan jemput bola ke wilayah terpencil.
  • Perjalanan panjang dan berisiko menjadi bagian dari tugas sehari-hari.
  • Insiden perahu karam menjadi contoh nyata risiko yang dihadapi.
  • Kisah penyintas, Yusuf, menggambarkan langsung pengalaman di lapangan.
Video

RRI.CO.ID, Malinau - Perjalanan menuju pelosok di Kabupaten Malinau tak hanya soal jarak, tetapi juga tentang keberanian menghadapi risiko di setiap langkah. Sungai deras, cuaca tak menentu, hingga keterbatasan sarana transportasi menjadi bagian dari keseharian tenaga kesehatan yang mengabdi di wilayah pedalaman.

Seperti yang terjadi di Giram Lutung, Desa Long Uli, Kecamatan Bahau Hulu, pada 6 Maret 2026, ketika sebuah perahu ketinting yang mengangkut tim tenaga kesehatan UPTD Puskesmas Long Alango karam di tengah arus sungai yang deras.

Insiden itu terjadi saat para petugas tengah menjalankan misi pelayanan kesehatan jemput bola, demi memastikan masyarakat di wilayah terpencil tetap mendapatkan akses layanan dasar.

Kejadian tersebut menjadi gambaran betapa berat dan penuh tantangan tugas yang diemban para tenaga kesehatan di pedalaman.

Di balik dedikasi itu, ada cerita perjuangan yang jarang terlihat. Mulai dari menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan perahu, menghadapi kondisi alam yang tak bersahabat, hingga tetap menjalankan pelayanan meski dihadapkan pada risiko keselamatan.

Lalu, bagaimana sebenarnya pengalaman para tenaga kesehatan saat bertugas di wilayah pedalaman? Berikut wawancara Reporter Ading Reflin bersama salah satu petugas kesehatan di sana, Yusuf, yang turut merasakan langsung tantangan tersebut sekaligus penyintas dalam insiden perahu terbalik. (Ading-Yogi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....