Bupati : Lembaga Adat Wadah Kerja Nyata, Bukan Sekadar Simbol
- 04 Okt 2026 11:12 WIB
- Malinau
RRI.CO.ID, Malinau — Bupati Malinau, Wempi W. Mawa, menegaskan agar lembaga adat bukan sekadar wadah formalitas, melainkan ruang berpikir, merencanakan, dan bekerja nyata demi kemajuan seluruh masyarakat Dayak Punan di Bumi Intimung.
"Lembaga ini menghimpun tokoh dari tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan, hingga desa berada tepat di tengah masyarakat. Oleh karena itu, kehadirannya harus memberi dampak nyata, bukan sekadar berkumpul lalu pulang tanpa hasil," katanya saat membuka Rapat Kerja Lembaga Adat Besar Punan Kabupaten Malinau Tahun 2026 di BPU Respen Tubu, Kecamatan Malinau Utara Jumat (2/10/2026).
Bupati juga menegaskan beberapa hal. Pertama, budaya adalah diri kita yang harus dijaga dan ditetapkan standarnya. Budaya tidak boleh hilang atau digantikan oleh kebiasaan asing. Harus ditetapkan secara jelas seperti pakaian, hiasan, tarian, hingga bentuk hunian khas Dayak Punan agar generasi muda memiliki panduan yang pasti.
Sanggar seni yang mulai tumbuh menjadi harapan, pelestarian harus dimulai sejak dini. Apresiasi juga disampaikan kepada para tokoh yang mengenakan atribut khas pada acara ini, agar ke depannya tidak lagi terjadi keraguan mengenali jati diri.
"Pemerintah Kabupaten Malinau telah menetapkan 11 lembaga adat, 10 di antaranya telah memiliki wilayah adat yang jelas, dan keberadaannya selalu dihadirkan dalam kegiatan kenegaraan dan kebudayaan," kata Wempi.
Kedua, mengelola alam dengan bijak. Wilayah hutan dan kawasan harus dibagi dengan jelas. Alokasi yang dijaga kelestariannya dan yang dikembangkan untuk pertanian, perumahan, dan kesejahteraan ekonomi. Jangan semua ditutup, namun jangan pula semua diambil tanpa sisa.
"Dulu hewan buruan dan ikan sungai masih melimpah, kini semakin sulit ditemukan. Mengambil tanpa menata dan melestarikan akan menghabiskan sumber kehidupan kita sendiri," jelasnya.
Ketiga melindungi situs sejarah. Dokumentasi sangat penting untuk menyimpan warisan abadi. Situs-situs peninggalan leluhur harus dipelihara dan didokumentasikan secara lengkap. "Di masa depan, teknologi bahkan kecerdasan buatan mampu menghadirkan kembali sosok dan cerita masa lalu, asalkan catatan dan bukti fisiknya terjaga. Pemetaan dan pendataan warisan ini harus menjadi bagian dari hasil rapat kerja ini," bebernya.
Keempat, kata Wempi, maju tanpa kehilangan jati diri. Masyarakat Dayak Punan diminta tidak mudah tersinggung atau sensitif dalam menerima masukan. Kemajuan menuntut kesiapan berubah, belajar, dan sejajar dengan masyarakat lain. Bukan untuk menguasai, melainkan agar tidak dibodohi, tidak dirugikan, dan tidak menjadi tamu di rumah sendiri.
Tujuan akhir seluruh pembangunan ini, kata Wempi, sederhana. Yaitu masyarakat Malinau menjadi cerdas, bahagia, sejahtera, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. "Sinergi antara kearifan lokal dan kemajuan zaman adalah jalan yang dipilih dan budaya tetap hidup, ekonomi tumbuh, dan identitas tak hilang," tuturnya. (Dayat)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....