‎Panembahan Raja Tuo, Pemimpin Tidung Malinau Masa Lampau

  • 25 Nov 2025 10:47 WIB
  •  Malinau

‎KBRN, Malinau : Panembahan Raja Tuo (Tua) atau Muhammad Ali Hanapia merupakan tokoh besar dalam sejarah Kerajaan Tidung Panembahan. Ia adalah putra dari Abdullah, seorang bangsawan Berau bergelar Pangeran Raja Muda, dan ibunya bernama Ikes.

‎Setelah menikahi Aji Ratu, putri kedua Raja Tidung Panembahan ke-XI Aji Hasan bergelar Panembahan Alimuddin Hasan Pemesakan, Muhammad Ali Hanapia kemudian diangkat sebagai penerus tahta karena mertua tidak memiliki putra laki-laki. Dari sinilah ia menerima gelar Panembahan Raja Tua.

‎Pada masa pemerintahannya, Panembahan Raja Tua melakukan beberapa perubahan struktur wilayah. Ia memindahkan pusat kerajaan dari Setiyud ke Sawang Pangku (Kuala Bengalun) untuk memperkuat pengaruh kekuasaan.

‎Kemudian pada 1189 Hijriyah atau 1776 Masehi, pusat pemerintahan kembali dipindahkan ke wilayah yang diberi nama Alung Malinau atau Kuala Malinau. Beberapa tahun setelah perpindahan tersebut, salah satu tokoh keluarga kerajaan, Putri Miring, dimakamkan di bukit yang kini menjadi bagian Desa Wisata Pulau Sapi.

‎Pada masa itu, beberapa kepala suku juga menjalin hubungan dengan kerajaan. Mereka diberikan hak untuk mendiami wilayah tertentu dalam lingkup hukum Kerajaan Tidung.

‎Di antaranya ialah Ibung Alang dari Suku Merap yang menempati daerah Langap hingga muara Sungai Gong Sulok, Lakai dari Suku Abay yang menetap di Long Gita, serta Impagas dari Suku Abay yang tinggal di wilayah Sebatiung, Sungai Sembuak.

‎Hubungan ini diperkuat melalui perjanjian adat Sebila, yaitu perjanjian persaudaraan antar kepala suku dengan ritual mengisap darah secara bergantian. Panembahan Raja Tua memiliki tujuh orang anak yang kemudian melanjutkan garis keturunan kerajaan.

‎Salah satunya, Aji Muhammad Sapu, diangkat menjadi raja pada 1269 Hijriyah atau 1853 Masehi dan bergelar Panembahan Raja Pandita. Pada masa pemerintahannya, pusat kerajaan dipindahkan ke Alung Kabiran.

‎Namun pada 1896 Masehi ia ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah kolonial karena menolak tunduk kepada Hindia Belanda. Setelah pengasingan tersebut, kepemimpinan beralih kepada Aji Syahabudin, putra dari Aji Kuning (Ubang), dengan gelar Panembahan Aji Kuning.

‎Pada periode ini pusat pemerintahan dipindahkan ke Pagun Sebamben, tempat yang kemudian berkembang menyerupai kota. Setelah mengalami perkembangan pesat, nama Kampung Sebamben diubah menjadi Malinau Kota pada 1910 untuk mengenang Malinau lama.

‎Catatan sejarah ini disusun oleh Keluarga Besar Panembahan dan disampaikan dalam selayang pandang pada kegiatan Haul Kedua Keluarga Besar Panembahan Raja Tuo oleh Lembaga Kekerabatan Panembahan Sebawang - Sri Baginda Maharaja (LKPS - SBM) Kabupaten Malinau.

‎Haul digelar di Masjid Agung Darul Djalal, Malinau Hulu, Kecamatan Malinau Kota pada Jumat (21/11/2025). Agenda ini mempertemukan para juriat atau keturunan panembahan di seluruh wilayah Malinau, juga dihadiri unsur pemerintah daerah, Wakil Bupati Malinau, Jakaria, Sekretaris Daerah Ernes Silvanus, dan Asisten 1 Kamran Daik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....