BMKG Ingatkan Risiko Karhutla dan Banjir di Malinau
- 05 Jun 2026 23:13 WIB
- Malinau
Poin Utama
- Malinau tidak memiliki musim kemarau, tetapi periode panas beberapa hari tetap dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
- BMKG mengingatkan potensi banjir dan cuaca ekstrem, terutama saat hujan lebat terjadi di wilayah hulu sungai yang bermuara ke Malinau.
RRI.CO.ID, Malinau - Kabupaten Malinau memang tidak memiliki musim kemarau secara klimatologis seperti sejumlah wilayah lain di Indonesia. Namun bukan berarti daerah ini terbebas dari ancaman bencana hidrometeorologi, terutama kebakaran lahan saat periode panas dan banjir ketika hujan berintensitas tinggi terjadi di wilayah hulu sungai.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II BMKG Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, mengatakan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca dalam beberapa waktu ke depan. Menurutnya, Indonesia secara umum mulai memasuki periode musim kemarau, meskipun karakteristik iklim Malinau berbeda karena curah hujan masih terjadi sepanjang tahun.
"Di Malinau dan Kalimantan Utara pada umumnya, tidak hujan selama tiga atau lima hari saja itu sudah cukup membuat tanah kering dan mudah terbakar. Nah ini yang harus diwaspadai, tidak melakukan pembakaran secara tidak terkendali," ujarnya saat diwawancarai, Kamis (4/6/2026).
Ia menjelaskan, meskipun Malinau tidak memenuhi kriteria musim kemarau menurut BMKG, wilayah tersebut tetap dapat mengalami periode panas yang berlangsung beberapa hari. Pada kondisi demikian, vegetasi dan lapisan tanah permukaan dapat menjadi lebih kering sehingga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan apabila terdapat aktivitas pembakaran.
Selain ancaman karhutla, masyarakat juga diminta mewaspadai cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi yang masih berpotensi terjadi. Curah hujan yang tinggi dalam waktu singkat dapat memicu kenaikan debit sungai, terutama karena sebagian besar permukiman di Malinau berada di sekitar daerah aliran sungai.
"Perlu diwaspadai juga, cuaca ekstrim. Dalam hal ini, hujan dengan intensitas tinggi. Ini juga perlu menjadi kewaspadaan, terutama di Malinau, karena sungainya di sana juga mudah sekali bersinggungan dengan tempat tinggal," katanya.
Menurut Sulam Khilmi, masyarakat tidak hanya perlu memperhatikan kondisi cuaca di wilayah tempat tinggalnya, tetapi juga kondisi hujan di daerah hulu. Hujan yang terjadi di bagian atas daerah aliran sungai dapat menyebabkan peningkatan debit air yang berdampak hingga ke wilayah hilir beberapa waktu kemudian.
"Ketika hujan di hulu, ini juga akan berdampak kepada sepanjang aliran sungai yang ada di Malinau," ujarnya.
Secara umum, perubahan iklim global diketahui meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia. Kenaikan suhu rata-rata bumi dapat memengaruhi pola hujan dan meningkatkan risiko kejadian hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan, maupun kebakaran lahan.
Karena itu, selain meningkatkan kesiapsiagaan terhadap cuaca ekstrem, masyarakat juga diajak berkontribusi dalam upaya mengurangi laju perubahan iklim melalui berbagai tindakan sederhana yang ramah lingkungan.
"Kita harus melakukan beberapa hal yang ramah lingkungan, seperti banyak menanam pohon, tidak menggunakan CFC secara berlebihan, tidak menggunakan aerosol secara berlebihan, dan juga tidak melakukan pembakaran. Itu adalah upaya-upaya kita untuk memperlambat laju perubahan iklim," kata Sulam Khilmi.
Ia berharap masyarakat semakin memahami bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan global, tetapi juga memiliki dampak real terhadap kondisi cuaca di daerah. Menurutnya, dengan meningkatkan kesadaran lingkungan dan mengikuti informasi cuaca, risiko yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem dapat diminimalkan. (Ading)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....