Menyemai Kemandirian dari Kepanjen Malang
- 31 Jan 2026 08:00 WIB
- Malang
RI.CO.ID, Malang – Berangkat dari Kepanjen, gagasan kemandirian tenaga kerja tumbuh melalui pelatihan, karya nyata, dan semangat berkoperasi.
Kepanjen bukan sekadar titik geografis bagi H. Bambang Mangku Bagyo (74). Dari wilayah di Kabupaten Malang inilah, Pimpinan Proyek Nata Agung Perwujudan Pusat tersebut memulai perjalanan panjang yang membentuk cara pandangnya tentang arti kemandirian sumber daya manusia.
Keberanian keluar dari zona nyaman menjadi benang merah kisah hidup Bambang. Berbekal tekad dan pengalaman, ia merantau hingga Kalimantan Utara dan terlibat dalam berbagai proyek berskala besar, termasuk pekerjaan di kawasan bandara.
Dinamika kerja lintas daerah itu memberinya pelajaran penting tentang kebutuhan tenaga kerja yang terampil, disiplin, dan siap pakai.Pengalaman lapangan tersebut kemudian bertransformasi menjadi gagasan besar.
Bambang menilai, tanpa kesiapan sumber daya manusia, pembangunan hanya akan berjalan di tempat. Keterampilan, menurutnya, harus dibangun secara sistematis dan berkelanjutan.
“Tenaga kerja siap pakai adalah kebutuhan mendesak. Kita tidak bisa menunggu lama jika ingin mengejar ketertinggalan,” ujar Bambang, Sabtu (31/1/2026).
Pimpinan Proyek Nata Agung Perwujudan Pusat H. Bambang Mangku Bagyo saat menceritakan pengalamannya mendorong kemandirian.
Semangat itulah yang melahirkan Balai Latihan Kerja (BLK) Karoseri Jenggolo Baru Majapahit. BLK ini dirancang tidak hanya sebagai pusat pelatihan teknis, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan mental kemandirian bagi generasi muda.
Peresmian BLK pun dikemas sebagai momentum kebersamaan yang melibatkan pimpinan, karyawan, mitra kerja, hingga calon peserta didik.
Bagi Bambang, orientasi utama BLK bukan sekadar mencetak tenaga kerja untuk industri, melainkan menyiapkan individu yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Peserta didik didorong untuk tidak berhenti pada status pencari kerja, tetapi berani melangkah menjadi pencipta lapangan kerja.
“Kami ingin mereka punya usaha sendiri. Bukan hanya bekerja, tetapi mampu mengelola dan mengembangkan,” katanya.
Konsep kemandirian itu diarahkan melalui kekuatan kolektif berbasis koperasi. Bambang memimpikan lulusan BLK dapat berkolaborasi dalam usaha bersama berbendera koperasi, yang kemudian diperkuat melalui badan usaha berbentuk perseroan terbatas dengan kepemilikan saham oleh koperasi dan masyarakat.
Pengalaman di Kalimantan menjadi cermin nyata bagi gagasan tersebut. Proyek Nata Agung di wilayah itu telah berjalan dan menyerap ratusan tenaga kerja. Ke depan, Bambang berharap pola serupa dapat diterapkan secara berkelanjutan di Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.
Bersama Kasdim 0818/Malang-Batu dan Sekcam Kepanjen, Bambang Mangku Bagyo saat berada di kantor BLK Jenggolo yang baru diresmikan.
Untuk menopang visi tersebut, BLK Jenggolo Baru menekankan penguatan keterampilan secara menyeluruh. Tidak hanya penguasaan teknis sesuai bidang, tetapi juga kemampuan manajerial bagi calon pemimpin usaha serta keterampilan pemasaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Aktivitas pelatihan di Jenggolo Baru berlangsung nyata dan aplikatif. Peserta didik terlibat langsung dalam modifikasi kendaraan roda tiga menjadi bentor, pembuatan kendaraan boks, hingga perakitan ambulans desa yang telah diserahkan kepada pemerintah desa. Di sektor lain, mereka memproduksi kusen, mebel, serta berbagai perlengkapan perumahan.
BLK ini terbuka bagi masyarakat luas dan pencari kerja. Kantor pendaftaran disiapkan sebagai pintu masuk bagi siapa pun yang ingin belajar sekaligus bekerja. Kebutuhan tenaga kerja, terutama untuk proyek di Kalimantan, disebut masih sangat besar.
“Sumber daya manusia dari Jawa melimpah. Tinggal dipoles sesuai kebutuhan dan kultur kerja,” jelas Bambang.
Proses pembelajaran didampingi mentor berpengalaman dan praktisi lapangan. Salah satunya Nanang Supriyatna, yang dikenal melalui inovasi pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi dan telah dipasarkan ke luar Jawa.
Keunikan BLK Jenggolo Baru terletak pada prinsip belajar sambil bekerja tanpa memungut biaya. Peserta magang tetap memperoleh uang saku dan diberikan tanggung jawab secara bertahap sesuai kemampuan.
“Kalau sudah mampu, baru dilepas. Mau mandiri atau menjadi karyawan, itu pilihan mereka,” ujar Bambang.
Sejak beroperasi, ratusan tenaga kerja telah disalurkan ke berbagai sektor, termasuk perkebunan. Peserta tidak hanya berasal dari Malang, tetapi juga dari Jember, Surabaya, hingga Jawa Barat. Lebih dari seribu orang tercatat telah merasakan dampak langsung dari program tersebut.
Dari Kepanjen, Bambang menanam harapan besar tentang kemandirian ekonomi yang tumbuh dari pelatihan, diperkuat oleh kebersamaan, dan berakar pada semangat berbagi untuk sesama.