Cinta dan Doa dalam Sepiring Rasa
- 30 Jul 2025 12:49 WIB
- Malang
KBRN, Malang: Di sebuah sudut sederhana kota Malang, berdiri sebuah warung kecil yang menyajikan masakan khas Tahu Telur dan Nasi Goreng dengan rasa yang nikmat. Sejuta kisah terukir dibalik keberadaan warung ini yang sarat akan nilai perjuangan, harapan, dan cinta keluarga. Namanya Warung Hidayah yang beralamat di Jl. Bantaran Barat 1 no.55 Lowokwaru Malang. Berdiri sejak tahun 2010, warung ini simbol keteguhan hati sebuah keluarga yang tidak pernah menyerah, bahkan di titik terendah kehidupan.
Pemilik usaha ini adalah Iman Sufandi (48) dan istrinya, Shintasa Novi Hadyantri (49), mereka tidak memulai Warung Hidayah dari kelebihan. Sebaliknya, mereka merintis dari kondisi yang serba kekurangan. Setelah memutuskan untuk resign dari pekerjaannya terdahulu di koperasi pada tahun 2009, pria yang akrab dipanggil Fandi ini sempat mengalami masa - masa sulit. Tidak ada penghasilan tetap, tidak ada jaminan kesehatan seperti BPJS, bahkan untuk membeli beras pun harus menunggu jualan di warungnya laku lebih dulu.
“Dulu uang cuma cukup buat ongkos. Uang saku anak - anak? Nggak ada mas, kalau sakit, ya nahan saja,” kenang Fandi, Rabu (30/7/2025).
Awal jualan pun sepi, dengan kondisi yang ada, ia tidak menyerah. Dengan pilihan hidup untuk berjualan di warung harus ditekuni dengan baik. Ia dan istri akhirnya mencoba meracik resep yang pas untuk tahu telur dan minuman tradisional sendiri. Sepi bukan berarti akhir, ia mencoba berbagai strategi sampai mengajak teman - teman dekatnya agar datang untuk mencoba jualan mereka. Tidak disangka, banyak yang cocok dan menyukai racikan bumbu tahu telur yang istimewa.
“Lelah? Tentu. Ingin menyerah? Hampir,” ujar Fandi kepada www.rri.co.id.
Perjuangan berat dihadapinya dengan sabar, dari situlah, perlahan, kabar tentang Warung Hidayah menyebar. Lama - lama, bukan hanya teman yang datang. Tetangga, karyawan kantor, hingga anak muda mulai berdatangan, penasaran dengan racikan khas dan suasana hangat di balik warung sederhana itu.
Perjuangan mereka juga didukung kedua putri mereka yaitu Adela Salsabila Nova (17) dan adiknya Aurella Nabila Nova (14). Di usia remaja seperti mereka, mereka tidak malu membantu orang tuanya untuk berjualan, karena mereka tahu, warung ini bukan sekadar usaha, melainkan perjuangan keluarga. Tahu telur, makanan khas yang tidak semua kalangan usia suka. Seiring berjalan waktu, mereka padukan tahu telur dengan menu lain yaitu nasi goreng agar lebih variatif.
“Kalau hanya tahu telur ga semua mau mas, anak - anak kadang nggak mau. Tapi kalau nasi goreng, dari anak sampai dewasa suka,” jelas Shintasa.
Hal senada disampaikan salah satu pembeli setia, Michael dan Daniel yang kerap memesan tahu telur dan nasi goreng di warungnya. “masakannya enak sekali, harga pas dikantong namun kualitas hotel Bintang 5. Harus coba pasti puas, karena saya sendiri pemilih makanan, saya rekmendasikan tahu telur dan nasi gorengnya rasa nya mantab” ujar mereka.
Fandy dan keluarga merupakan cerminan perjuangan usaha keluarga yang hidayah, halal dan berkah dalam menjalani hidup. Kini, lebih dari satu dekade warung hidayah berdiri. Bukan karena keajaiban. Tapi karena ketekunan serta keyakinan keluarga yang percaya bahwa rasa tidak hanya dari bumbu, tapi dari ketulusan dan perjuangan.
Ketika ditemui www.rri.co.id mengenai harapan, mereka ingin lebih berkembang dan mengharapkan adanya bantuan modal, perhatian dukungan dari pemerintah, dan juga support agar warung hidayah bisa terpublikasi luas. Fandy pemilik akun Instagram @sahabat_iman_ sembari menutup wawancara menyampaikan, “Kami tidak punya apa – apa mas, kecuali semangat untuk terus hidup dengan cara yang halal dan tulus, kami punya harapan besar dan juga semangat yang terus akan berkobar demi anak – anak kami agar esok bisa lebih baik dan juga saya berharap ada perubahan yang lebih baik di jalan hidayah yang kami jalani saat ini” kata Fandy, sambil tersenyum.
Karena kesempatan itu pasti ada, dan juga doa serta usaha semoga menjadikan warung Hidayah senantiasa diberikan berkah.