Kemenperin Gunakan Nilai Tambah untuk Ukur Kinerja Manufaktur

  • 01 Sep 2026 06:51 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemenperin menggunakan Manufacturing Value Added untuk mengukur kinerja industri manufaktur Indonesia.
  • Nilai tambah manufaktur Indonesia mencapai 275,61 miliar dolar AS pada 2025 dan menempati peringkat ke-12 dunia.
  • Kemenperin menargetkan utilitas industri pengolahan nonmigas meningkat dari 64,8 persen menjadi minimal 70 persen.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut penciptaan nilai tambah menjadi bagian penting dalam penguatan industri manufaktur nasional. Kementerian Perindustrian menggunakan Manufacturing Value Added (MVA) sebagai ukuran untuk mengukur kinerja manufaktur Indonesia.

Agus menyampaikan hal tersebut dalam pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-KL) 2027 bersama Komisi VII DPR RI. Ia menyebut penciptaan dan penguatan nilai tambah menjadi salah satu fokus Kementerian Perindustrian dalam membina industri manufaktur.

“Selain itu karena kami di Kemenperin yang selalu kita kejar dalam kita membina industri manufaktur yaitu penciptaan nilai tambah. Maka MVA (Manufacturing Value Added) menjadi cara terpenting dalam mengukur kinerja manufaktur yang ada di Indonesia,” ujar Agus di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.

Berdasarkan data World Bank yang dirilis pada 2025, nilai tambah manufaktur Indonesia mencapai 275,61 miliar dolar AS. Angka tersebut meningkat dibandingkan nilai tambah manufaktur pada 2024 yang mencapai 265 miliar dolar AS.

“Di mana kinerja positif industri manufaktur yang tercermin dalam Manufacturing Value Added yang ini dirilis oleh World Bank pada tahun 2025. Nilai tambah manufaktur Indonesia mencatat atau tercapai 275,61 miliar dolar Amerika,” kata Agus.

Capaian nilai tambah tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia pada 2025. Posisi tersebut meningkat dari peringkat ke-13 pada 2024.

Di kawasan ASEAN, Indonesia menempati posisi tertinggi dalam penciptaan nilai tambah manufaktur. Agus menyebut nilai tambah manufaktur Thailand yang berada di posisi kedua hanya sekitar setengah dari capaian Indonesia.

Selain nilai tambah, industri pengolahan nonmigas (IPNM) mencatat pertumbuhan positif pada triwulan II 2026. Berdasarkan data BPS, IPNM tumbuh 5,32 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Kinerja industri pengolahan nonmigas juga ditopang kontribusi ekspor yang besar. Agus mencatat ekspor IPNM berkontribusi hampir 82 persen terhadap total ekspor nasional.

Dari sisi kapasitas produksi, utilitas IPNM masih berada pada angka 64,8 persen. Agus menyebut tingkat utilitas tersebut perlu ditingkatkan hingga kisaran minimal 70 persen atau lebih.

“Utilitas IPNM masih pada angka 64,8 persen dan ini masih angka yang perlu kita tingkatkan. Kita perlu tingkatkan hingga kisaran minimal 70 persen atau lebih,” ujar Agus.

Agus menekankan penguatan pasar domestik untuk mengoptimalkan penyerapan produk manufaktur nasional. Saat ini, 78,4 persen output produk manufaktur terserap di pasar dalam negeri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....