Tingkatkan Daya Saing, Kemenperin dan YBI Pacu Efisiensi Produksi Batik
- 08 Jun 2026 17:17 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Perindustrian dan Yayasan Batik Indonesia mendorong efisiensi produksi untuk meningkatkan daya saing IKM batik.
- Langkah tersebut bertujuan membantu pelaku usaha menghadapi biaya produksi dan memperkuat posisi batik di pasar global.
- Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut industri batik konsisten menunjukkan kinerja positif.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perindustrian bersama Yayasan Batik Indonesia mendorong daya saing IKM batik melalui penerapan efisiensi produksi. Langkah tersebut membantu pelaku usaha menghadapi biaya produksi sekaligus memperkuat posisi batik di pasar global.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri batik merupakan subsektor yang konsisten menunjukkan kinerja positif. Data BPS mencatat nilai ekspor batik Indonesia 2025 mencapai USD30,62 juta, tumbuh 13,03 persen.
"Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa batik Indonesia masih memiliki daya saing yang kuat di pasar global. Karena itu, pemerintah terus memperkuat ekosistem industri batik melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha, penguatan daya saing produk," kata Agus di Jakarta, Senin, 8 Juni 2026..
Agus menambahkan pemerintah membuka akses pasar baru bagi industri batik melalui ekosistem haji dan umrah. Langkah tersebut diharapkan memperluas pasar industri batik nasional, khususnya yang telah memiliki sertifikasi Batikmark.
Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita mengatakan meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap batik menjadi peluang besar bagi IKM. Menurutnya, generasi muda turut mendorong perkembangan IKM batik melalui meningkatnya minat terhadap produk batik.
"Batik kini tidak hanya dikenakan dalam acara formal atau tradisional, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari. Tren ini menjadi momentum yang sangat baik bagi IKM batik untuk meningkatkan kapasitas usaha dan memperluas jangkauan pasar," ujar Reni.
Reni mengingatkan industri batik masih menghadapi tantangan maraknya produk tekstil bermotif batik hasil printing. Produk tersebut kerap dianggap batik oleh konsumen meski tidak dibuat menggunakan lilin atau malam.
"Produk tekstil bermotif batik pada dasarnya bukan batik karena tidak dibuat menggunakan lilin batik atau malam. Batik asli hanya terdiri atas batik tulis, batik cap, atau kombinasi keduanya yang seluruh prosesnya menggunakan teknik pembatikan," kata Reni.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenperin dan YBI menggelar Bimbingan Teknis Efisiensi Produksi IKM Batik. Kegiatan berlangsung di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pada 19 hingga 22 Mei 2026.
Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan menjelaskan peserta mendapat pelatihan efisiensi produksi. Pelatihan mencakup pemanfaatan kembali lilin batik bekas serta pembuatan cap batik berbahan kertas.
"Lilin batik bekas yang diolah kembali dapat mengurangi konsumsi bahan baku dan menekan biaya produksi. Sementara itu, cap batik berbahan kertas lebih ekonomis, mudah dibuat, dan dapat menjadi alternatif yang efektif dibandingkan cap berbahan logam," ujar Budi.
Menurut Budi, inovasi tersebut mendukung prinsip industri hijau melalui pengurangan limbah dan pemanfaatan material produksi. Produk batik bernilai budaya, ramah lingkungan, dan berharga kompetitif dinilai lebih menarik bagi konsumen.
Produk batik hasil bimbingan teknis di Tulungagung akan ditampilkan pada pameran Hari Batik Nasional 2026. Langkah tersebut diharapkan menginspirasi IKM batik daerah menerapkan efisiensi produksi dan memperkuat daya saing.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....