Kementan Uji Biodiesel B50, Mesin Pertanian Mulai Beralih ke Energi Terbarukan

  • 20 Apr 2026 10:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementan uji biodiesel B50 untuk alat dan mesin pertanian (alsintan)
  • Program B50 dorong ketahanan energi dan kurangi ketergantungan BBM fosil
  • Sekitar 5,3 juta ton CPO dikonversi jadi biofuel, impor solar ditekan
  • Uji coba menunjukkan performa mesin tetap stabil dan efisien
  • Penggunaan B50 berpotensi diterapkan luas di sektor pertanian

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) menguji penggunaan biodiesel B50 pada alat dan mesin pertanian. Pengujian ini dilakukan untuk mendukung pemanfaatan energi terbarukan di sektor pertanian.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan, pengembangan biofuel menjadi langkah strategis memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah juga mendorong pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

“Sebanyak 5,3 juta ton CPO kita konversi menjadi biofuel. Artinya, tahun ini kita tidak impor solar,” ucapnya dalam rilis resminya, Sabtu 18 April 2026.

Ia menyebut program B50 menjadi bagian penting dalam meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri. Pemanfaatan biodiesel juga diarahkan untuk mendukung modernisasi pertanian.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Fadjry Djufry, mengatakan pihaknya mengembangkan bioreaktor biodiesel hybrid. Teknologi ini dirancang untuk menghasilkan biodiesel secara efisien dan stabil.

“Kami mendorong pengembangan bioreaktor biodiesel. Tentu yang mampu menghasilkan bahan bakar dengan kualitas stabil,” ucapnya di Jakarta, Jumat 17 April 2026.

Menurutnya, biodiesel hasil pengolahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Salah satunya untuk operasional alat dan mesin pertanian.

Sementara itu, Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian bekerja sama dengan LEMIGAS melakukan uji lapangan alsintan berbahan bakar B50. Pengujian dilakukan pada awal April 2026.

Kepala BRMP Mektan Arief Rachman mengatakan pengujian bertujuan memastikan kesiapan teknis di lapangan. Evaluasi dilakukan terhadap keandalan mesin dan efisiensi bahan bakar.

“Pengujian ini untuk mengevaluasi performa alsintan. Mulai dari keandalan mesin hingga efisiensi bahan bakar,” katanya.

Pengujian dilakukan pada traktor roda dua, traktor roda empat, dan pompa air. Uji cold-startability juga dilakukan untuk memastikan mesin tetap berfungsi setelah penyimpanan.

Hasil pengujian menunjukkan biodiesel B50 memiliki kinerja yang relatif stabil. Parameter seperti daya, konsumsi bahan bakar, dan efisiensi kerja memenuhi standar nasional.

Penggunaan B50 dinilai tidak memberikan dampak negatif terhadap performa mesin. Hasil ini membuka peluang penerapan biodiesel pada alsintan secara lebih luas.

Kementerian Pertanian terus mendorong integrasi bioenergi dengan mekanisasi pertanian. Langkah ini diharapkan meningkatkan efisiensi dan mendukung program B50 nasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....