Berapa Sebenarnya Aset Iran yang Dibekukan di Luar Negeri?
- 11 Apr 2026 21:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Iran menuntut dibukanya pemblokiran aset-asetnya di luar negeri dalam perundingan dengan AS untuk mengakhiri perang
- Aset Iran yang dibekukan di luar negeri nilainya diperkirakan lebih dari USD100 miliar dollar
- Aset-aset tersebut dibekukan sebagai bagian dari sanksi ekonomi yang diterapkan negara-negara Barat seperti AS dan Eropa terhadap Iran
RRI.CO.ID, Jakarta – Iran menuntut dibukanya pemblokiran aset-asetnya di luar negeri dalam perundingan dengan AS untuk mengakhiri perang. Sejauh ini, tidak ada data pasti berapa sebenarnya jumlah aset milik pemerintah Iran yang dibekukan di bank-bank luar negeri.
“Tidak diketahui berapa jumlah pastinya. Tapi aset Iran yang dibekukan di luar negeri nilainya diperkirakan lebih dari USD100 miliar dollar,” kata euronews.com dalam artikelnya tanggal 9 April 2026.
Sebagai gambaran, bisa dikalikan dengan kurs rupiah saat ini di kisaran Rp17.100 per dolar AS. Aset-aset tersebut sebagian berasal besar hasil penjualan minyak Iran yang disimpan di bank-bank luar negeri.
Aset-aset tersebut dibekukan sebagai bagian dari sanksi negara-negara Barat seperti AS dan Eropa terhadap Iran. Iran menyimpan devisa hasil penjualan minyaknya antara lain di bank-bank di Tiongkok, India, Turki, Jepang, Korea Selatan, AS dan Eropa.
Aset milik pemerintah Iran yang dibekukan di AS jumlahnya mencapai USD2 miliar. Iran juga memiliki aset senilai USD6 miliar yang dibekukan di bank di Qatar.
Selain menyandera aset-aset miliik Iran, AS juga berperan mengacaukan perekonomian Iran. Hal tersebut diakui oleh Menteri Keuangan AS, Scott Bessent sebagai tekanan terhadap Iran menyusul alotnya perundingan nuklir dengan Iran.
AS mengatur sedemikian rupa agar terjadi kekurangan dolar di Iran, yang menyebabkan nilai mata uang Iran jatuh. Sehingga inflasi di Iran melambung dan memicu aksi protes warga Iran.
Aksi protes inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh AS sehingga terjadi aksi-aksi kekerasan. Iran berhasil mengendalikan situasi di negerinya, hingga akhirnya AS melakukan serangan saat perundingan nuklir masih berlangsung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....