IKI Maret Masih Ekspansi, Kemenperin Sebut Siklus Musiman Jadi Sebab

  • 01 Apr 2026 13:56 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Maret 2026 tetap berada di level ekspansi sebesar 51,86 poin.
  • Penurunan indeks dipengaruhi faktor musiman pascahari raya serta normalisasi produksi dan distribusi.
  • Sebanyak 16 subsektor masih ekspansi dengan kontribusi 78,3 persen terhadap PDB industri nonmigas.

RRI.CO.ID, Jakarta - Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief menyebut kinerja industri manufaktur Maret 2026 tetap ekspansi. Ia menilai pencapaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sebesar 51,86 poin membuktikan ketahanan sektor industri di tengah berbagai tekanan global.

Febri menjelaskan bahwa penurunan angka indeks tersebut murni dipicu oleh faktor musiman pascahari raya. Ia menilai kondisi ini lazim terjadi karena siklus produksi nasional telah mencapai puncaknya pada Februari lalu.

“Penurunan IKI pada Maret ini terutama dipengaruhi oleh faktor seasonal setelah Hari Raya keagamaan seperti Lebaran dan Imlek. Industri telah melalui puncak produksi pada Februari 2026 untuk merespons lonjakan permintaan selama periode tersebut,” ujar Febri di Jakarta, Selasa, 31 Maret 2026.

Febri menyatakan bahwa hambatan distribusi logistik selama 16 hari turut memengaruhi aktivitas pengendalian produksi. Ia menjelaskan penumpukan stok di gudang membuat para pelaku usaha menyesuaikan volume output secara moderat.

“Seiring normalisasi permintaan pasca hari raya, pelaku industri menurunkan tingkat produksi. Langkah ini dilakukan untuk menyeimbangkan kembali antara supply dan demand,” kata Febri.

Febri menilai ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah belum memberikan dampak signifikan bagi manufaktur. Ia menyebut krisis logistik energi dari kawasan tersebut hanya dirasakan oleh subsektor tertentu yang sangat spesifik.

“Dampaknya saat ini masih confined pada subsektor tertentu, khususnya industri yang memiliki ketergantungan bahan baku dari kawasan Timur Tengah. Secara umum, sektor manufaktur nasional masih cukup resilien,” ucap Febri.

Febri menjelaskan sebanyak 16 subsektor pengolahan saat ini masih berada pada zona pertumbuhan yang kuat. Ia merinci kontribusi dari seluruh subsektor ekspansi tersebut telah mencapai 78,3 persen terhadap produk domestik bruto.

“Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 16 subsektor berada pada fase ekspansi. Kontribusinya mencapai 78,3 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas,” ucap Febri.

Febri menjelaskan bahwa industri kendaraan bermotor serta media rekaman menjadi kontributor pertumbuhan yang tertinggi. Ia menyebut kontraksi pada beberapa bidang lainnya dipengaruhi oleh pelemahan daya beli serta kenaikan biaya.

“Selain faktor musiman, terdapat juga tekanan biaya logistik. Kenaikan harga bahan baku dipicu oleh dinamika geopolitik global,” ujar Febri.

Febri mengonfirmasi bahwa seluruh variabel pembentuk indeks kepercayaan masih berada pada zona yang positif. Ia menyebut pesanan tercatat sebesar 52,20 poin sementara komponen produksi berada pada angka 51,55 poin.

“Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas industri masih berjalan, namun dengan laju yang lebih moderat. Produksi tercatat telah mengalami ekspansi selama three bulan berturut-turut, meskipun dengan kecenderungan melambat,” kata Febri.

Febri menambahkan bahwa penguatan pasar dalam negeri menjadi sangat krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan. Ia mencatat indeks orientasi ekspor masih lebih unggul dibandingkan domestik dengan capaian angka sebesar 52,73 poin.

“Perlambatan ini mencerminkan adanya tekanan baik dari sisi permintaan global maupun domestik. Oleh karena itu, penguatan pasar dalam negeri menjadi sangat penting untuk menjaga momentum pertumbuhan industri nasional,” ucap Febri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....