Mendag Ungkap Cuaca Buruk Picu Anomali Harga Cabai Rawit Merah

  • 28 Mar 2026 12:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Cuaca buruk menjadi penyebab utama kenaikan harga cabai rawit merah karena menghambat proses panen petani.
  • Harga cabai rawit merah naik hingga Rp100.000 per kilogram, sementara komoditas lain relatif stabil.
  • Pemerintah memantau harga melalui aplikasi SP2KP dan memastikan stok pangan tetap aman pasca-Lebaran.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menjelaskan bahwa kendala cuaca menjadi penyebab utama kenaikan harga cabai rawit merah. Hujan deras yang mengguyur terus-menerus membuat para petani kesulitan melakukan proses panen di lahan perkebunan.

Budi mengatakan bahwa problem utama komoditas cabai rawit merah terletak pada sisi produksi dan logistik panen. Ia menyebut aktivitas memetik hasil tani tidak dapat berjalan normal apabila kondisi cuaca ekstrem terus melanda.

"Ya, jadi problemnya kan kami sudah komunikasi dengan asosiasi petaninya, problemnya memang cuaca. Jadi salah satunya memanennya itu kan tidak bisa terus, artinya ketika hujan berhari-hari kan tidak bisa memanen," ujar Budi usai meninjau lapak pedagang di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu, 28 Maret 2026.

Pemerintah terus menjalin komunikasi intensif dengan para pemasok untuk memastikan barang kembali masuk ke pasar rakyat. Budi menilai ketersediaan kebutuhan pokok lainnya secara umum masih dalam kondisi mencukupi bagi konsumsi masyarakat.

Budi menjelaskan bahwa harga cabai merah keriting saat ini justru berada di bawah harga eceran tertinggi. Ia mengatakan harga jual di pasar hanya menyentuh angka Rp50.000 dari ketentuan batas atas sebesar Rp55.000.

"Itu memang yang cabai, cabai rawit ya, cabai rawit merah, tapi yang lain tidak ada masalah. Jadi kalau lihat cabai merah yang keriting itu kan di bawah HET," kata Budi.

Kementerian Perdagangan memantau pergerakan harga melalui aplikasi SP2KP pada 550 titik pasar di seluruh wilayah Indonesia. Ia menegaskan sistem tersebut membantu pemerintah mendeteksi fluktuasi harga kebutuhan pokok setiap hari secara akurat.

Budi menyebut operasional pedagang pasca-Lebaran saat ini baru mencapai angka sekitar 50 persen di pasar. Ia memastikan stok minyak goreng dan beras tetap aman untuk memenuhi permintaan pasar.

"Nah, kemudian sekarang setelah lebaran tadi memang informasi dari teman-teman di Pasar Minggu kurang lebih mungkin baru 50 persen ya pedagangnya baru datang. Kebutuhan pokok kita seperti beras, kemudian minyak, cabai, dan lain-lain tercukupi," ucap Budi.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengonfirmasi adanya lonjakan harga signifikan pada komoditas spesifik yakni cabai rawit merah. Ia mengatakan harga cabai rawit merah tersebut telah menyentuh angka Rp100.000 per kilogram.

Zulkifli menjelaskan bahwa kenaikan harga ini dipicu oleh permintaan tinggi terhadap jenis cabai dengan tingkat kepedasan tertentu. Ia menegaskan harga komoditas lain seperti telur dan sayuran masih berada dalam koridor yang terkendali.

"Cabai rawit merah ya yang kecil yang segini yang pedas. Iya itu tadi Rp100.000 harganya," ujar Zulkifli.

Zulkifli memastikan bahwa ketegangan di Timur Tengah tidak akan mengganggu ketersediaan stok pangan nasional Indonesia. Ia meyakini cadangan beras dan jagung tetap aman karena diproduksi secara mandiri oleh petani dalam negeri.

"Beras kita tahun lalu surplus empat juta, saya kira tahun ini juga akan ada 4 juta. Jadi insyaallah kalau beras tahun ini sampai tahun depan kita aman stoknya ya," kata Zulkifli.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....