LPEI: Ekspor Indonesia Bisa Tumbuh hingga 5 Persen di Tengah Konflik Geopolitik

  • 19 Mar 2026 22:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Konflik Timur Tengah akan berdampak pada perdagangan global, tapi dampaknya ke ekspor Indonesia masih terbatas
  • Ekspor Indonesia tahun 2026 diperkirakan masih dapat tumbuh antara 4-5 persen
  • Ekspor Indonesia ke Timur Tengah masih relatif kecil sekitar 4,2 persen dari total ekspor nasional

RRI.CO.ID, Jakarta – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) mencermati dampak eskalasi konflik Timur Tengah terhadap perdagangan global. Dinamika yang terjadi dalam perdagangan global akan mempengaruhi kinerja eskpor Indonesia.

Head of Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani mengatakan, akan terus memantau perkembangan konflik dam implikasinya. Terutama dari sisi stabilitas jalur energi internasional

“Kami memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz. Karena selat ini merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia,” kata Rini dalam pernyataan tertulisnya, dikutip Kamis, 19 Maret 2026.

Menurut Rini, ekspor Indonesia tahun 2026 masih dapat tumbuh di kisaran 4-5 persen. Meski terjadi dinamika harga komoditas dan kondisi perdagangan global karena konflik di Timur Tengah.

“Ekspor Indonesia bahkan berpotensi meningkat sekitar 5-6 persen di tahun 2027. Dengan catatan, tensi geopolitik mereda dan permintaan globak pulih secara bertahap,” ucapnya.

Menurut Rini, dampak langsung konflik Timur Tengah terhadap perdagangan diperkirakan relatif terbatas. Karena eksposur perdagangan dengan kawasan tersebut masih kecil.

Risiko utama justru muncul melalui kanal tidak langsung, terutama kenaikan harga energi dan volatilitas nilai tukar. Selain itu, aktivitas industri di negara mitra dagang utama dapat memengaruhi dinamika ekspor Indonesia.

Rini mengutip laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh Indonesia Eximbank. Laporan itu menunjukkan, ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2 persen dari total ekspor nasional.

Komoditas ekspor antara lain minyak kelapa sawit, perhiasan, serta mobil dan kendaraan bermotor lainnya. Sementara itu, impor Indonesia dari kawasan tersebut mencapai sekitar 3,9 persen dari total impor nasional.

Impor Indonesia dari Timur Tengah didominasi oleh komoditas energi, khususnya minyak. “Struktur perdagangan tersebut menunjukkan bahwa eksposur perdagangan langsung Indonesia terhadap kawasan konflik relatif terbatas,” ujar Rini.

Dia juga mengatakan, saat ini sebagian besar ekspor Indonesia mengalir ke kawasan lain seperti Asia Timur (36,4 persen). Serta Asia Tenggara (20,8 persen), Amerika Utara (11,5 persen), Asia Selatan (9,6 persen) dan Eropa Barat (5,7 persen)

“Dinamika ekonomi di kawasan-kawasan itulah yang menjadi faktor yang menentukan bagi kinerja ekspor nasional,” kata Rini. Meski demikian, Rini juga mencermati faktor risiko eskalasi konflik di Timur Tengah.

Dari sisi risiko, harga minyak global diperkirakan di kisaran USD85–120 per barel jika konflik berlangsung relatif lama. Kenaikan harga minyak akan menyebabkan meningkatnya biaya energi yang berpotensi menekan aktivitas industri di negara-negara tersebut.

Kenaikan harga energi juga dapat memengaruhi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia. Meaki demikian, beberapa komoditas ekspor Indonesia justru mengalami kenaikan harga.

Misalnya batubara, yang memiliki kontribusi sekitar 8–9 persen terhadap total ekspor nasional, berpeluang mendapatkan dorongan harga. Minyak kelapa sawit (CPO) juga menunjukkan tren yang relatif kuat seiring masih solidnya permintaan global terhadap komoditas agro.

“Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Tapi volatilitas komoditas logam dan sektor industri, tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam," kata Rini menutup keterangannya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....