Ini Dia Amalan 10 Malam Terakhir Ramadhan
- 12 Mar 2026 22:22 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al-Muawanah RRI Makassar pada malam ke-22 Ramadan, Kamis, 12 Maret 2026. Dalam ceramah tarawih yang disampaikan oleh Ustadz Icuk Sugiarto Rifai, Lc., Jamaah diajak untuk mendalami hakikat ibadah di penghujung bulan suci, khususnya mengenai pelurusan niat dan amalan-amalan utama menjelang 10 malam terakhir.
Membuka ceramahnya, Ustadz Icuk menekankan bahwa fondasi dari segala amalan adalah niat yang tulus (ikhlas). Beliau mengingatkan agar umat Muslim tidak terjebak pada ritual yang hanya mengejar kemuliaan malam Lailatul Qadar atau keistimewaan Ramadan semata, melainkan sepenuhnya karena Allah SWT. "Perbaiki niat. Kita berpuasa, bersedekah, dan mengaji bukan untuk Ramadan atau Lailatul Qadar, tapi untuk Tuhannya Ramadan. Allah tetap menjadi Tuhan meskipun Ramadan telah usai," tegas ustdz lulusan Mesir ini.
Ia mengibaratkan niat seperti alamat pada paket; jika alamatnya salah sejak awal, maka amalan tersebut tidak akan sampai kepada Allah SWT. Menyongsong 10 malam terakhir, Ustadz Icuk menjelaskan tentang kemudahan ibadah itikaf. Berdasarkan ajaran gurunya di Mesir, itikaf tidak harus dilakukan dalam durasi yang sangat lama atau menginap berhari-hari bagi yang memiliki keterbatasan.
"Etika itikaf itu sederhana. Begitu masuk masjid, niatkan dalam hati: Nawaitu al-iktikaf ma dumtu fil masjid (Saya berniat itikaf selama berada di masjid). Meski hanya satu atau dua jam sambil menunggu waktu salat, itu sudah dihitung pahala itikaf," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga membagikan ijazah amalan sunnah, yakni melaksanakan salat sunnah Fajar atau Qobliyah Subuh. Beliau menganjurkan membaca Surah Al-Insyirah (Alam Nasroh) pada rakaat pertama dan Surah Al-Fil (Alam Taro Kaifa) pada rakaat kedua. "Barangsiapa yang istiqamah mengamalkan ini, insya Allah akan diberikan kelancaran rezeki yang tidak putus-putus dan dijauhkan dari penyakit sulit (kulantu)," tambahnya.
Menjelang Idulfitri, Ustadz Icuk memberikan peringatan keras mengenai kewajiban zakat, baik zakat fitrah maupun zakat mal. Beliau mengibaratkan orang yang enggan berzakat seperti orang yang melilitkan tangannya sendiri ke leher. "Puasa itu wajib, salat itu wajib, tapi zakat juga wajib. Jangan sampai jidat hitam karena sujud dan mulut kering karena puasa, tapi harta yang menjadi hak fakir miskin tetap kita tahan. Hati-hati, harta yang tidak dikeluarkan zakatnya bisa menjadi sebab musibah, seperti kebakaran atau kecelakaan, karena Allah akan mengeluarkan paksa harta tersebut jika kita tidak memberikannya secara ikhlas," pungkasnya.
Ceramah diakhiri dengan ajakan untuk memperluas kedermawanan, mengingat Ramadan mengajarkan kepekaan sosial terhadap sesama yang kelaparan setiap hari, bukan hanya di bulan puasa saja.