Mencari Jati Diri Pemuda di Jalan Allah

  • 12 Mar 2026 14:00 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Di tengah gaya hidup modern yang identik dengan nongkrong di pusat perbelanjaan dan mengikuti tren media sosial, generasi muda diingatkan untuk tidak kehilangan jati diri spiritualnya. Hal tersebut disampaikan Ust. Dr. Rahmat Hamid, S.Q., M.Ag dalam Program Special Ramadhan Pro 2 Makassar “Tanya Pas Ustadz” saat membahas tema “Pemuda Masjid vs Pemuda Mall: Mencari Jati Diri di Jalan Allah.”

Ia menekankan bahwa masa muda merupakan fase penting dalam kehidupan manusia, yakni masa pencarian jati diri yang penuh energi, idealisme, sekaligus godaan yang dapat menentukan arah kehidupan seseorang di masa depan.

Dalam pemaparannya, Ust. Rahmat menjelaskan bahwa pada hakikatnya manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk beribadah. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa manusia dan jin tidak diciptakan kecuali untuk menyembah-Nya. Karena itu, kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai ibadah dan penghambaan kepada Allah SWT.

Menurutnya, masa muda adalah masa emas dalam kehidupan seseorang. Pada fase ini seseorang memiliki energi besar, keberanian, serta idealisme tinggi. Namun di saat yang sama, masa muda juga menjadi fase yang penuh dengan godaan yang dapat mengarahkan seseorang pada jalan yang benar ataupun sebaliknya.

Rasulullah SAW bahkan menyebutkan bahwa ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah SWT di hari kiamat. Salah satunya adalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT.

Ia menegaskan bahwa istilah “pemuda mall” bukan berarti pusat perbelanjaan itu sendiri sesuatu yang salah. Mall hanyalah simbol gaya hidup modern yang identik dengan hiburan, tren, dan aktivitas sosial. Namun persoalan muncul ketika kehidupan dunia menjadi pusat identitas seseorang, sementara hubungan spiritual dengan Allah justru terabaikan.

“Sering kali orang takut ketinggalan event atau tren, tetapi tidak takut ketinggalan sholat. Update tren selalu cepat, tetapi update iman sering tertinggal,” ujarnya.

Sebaliknya, pemuda masjid tidak hanya diartikan sebagai mereka yang rajin datang ke masjid untuk menunaikan sholat. Lebih dari itu, pemuda masjid adalah mereka yang memiliki kesadaran spiritual yang kuat, merasa gelisah ketika belum menunaikan sholat, serta aktif dalam kegiatan dakwah dan majelis ilmu.

Ia juga menyinggung kisah para pemuda dalam Surah Al-Kahfi, yakni Ashabul Kahfi yang tetap mempertahankan keimanan mereka meskipun hidup di tengah masyarakat yang menyembah berhala. Karena keteguhan iman tersebut, mereka dipuji oleh Allah SWT dan diberikan petunjuk.

Menurutnya, jati diri sejati seorang pemuda bukan diukur dari jumlah pengikut di media sosial, pakaian bermerek, atau tempat nongkrong yang populer. Jati diri yang sesungguhnya adalah tingkat ketakwaan kepada Allah SWT.

“Allah berfirman bahwa yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa,” jelasnya.

Ust. Rahmat juga menyoroti realitas generasi muda saat ini yang hidup di era banjir informasi. Banyak hiburan dan ekspektasi digital yang tersedia, namun sering kali tidak diimbangi dengan perenungan spiritual dan kedekatan dengan Al-Qur’an.

Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa pada hari kiamat nanti manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas kehidupannya, termasuk bagaimana mereka memanfaatkan masa mudanya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa Islam tidak melarang umatnya menikmati kehidupan dunia. Islam tidak anti terhadap aktivitas seperti berbisnis, rekreasi, mengikuti perkembangan fashion, ataupun bersosialisasi. Namun Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.

“Masjid bukan saingan mall. Masjid adalah pusat pembentukan karakter,” katanya.

Sejarah juga menunjukkan bahwa banyak tokoh besar lahir dari lingkungan masjid, seperti Umar bin Khattab hingga Muhammad Al-Fatih yang dikenal sebagai pemimpin besar dalam peradaban Islam.

Di akhir pemaparannya, ia menjelaskan beberapa tanda pemuda yang sedang menemukan jalan Allah SWT. Di antaranya mulai menjaga sholat tepat waktu, lebih selektif dalam pergaulan, mencintai majelis ilmu, peduli terhadap dosa sekecil apa pun, serta mulai memikirkan kehidupan akhirat.

Menurutnya, proses tersebut merupakan bagian dari perjalanan hijrah yang sesungguhnya dalam kehidupan seorang muslim.

Rekomendasi Berita