Cerita Aiptu Muhlis Wakafkan Rumah untuk Pondok Al-Muhlis

  • 15 Feb 2026 22:44 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Maros - Sebuah langkah pengabdian yang melampaui tugas kedinasan ditunjukkan oleh Aiptu Muhlis, personel Bhabinkamtibmas Polsek Lau, jajaran Polres Maros. Ia secara sukarela mewakafkan diri, tanah, serta rumah pribadinya untuk mendirikan sebuah pondok pengajian bernama Al-Muhlis, sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap kemajuan pendidikan agama dan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Lau dan sekitarnya, Minggu, 15 Februari 2026.

Ditengah kesibukannya sebagai aparat kepolisian yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Aiptu Muhlis memilih mengambil peran tambahan sebagai penggerak pendidikan. Ia mengungkapkan, gagasan mendirikan pondok pengajian telah lama tumbuh dalam benaknya, bahkan sejak awal bertugas di wilayah Lau beberapa tahun silam.

“Keinginan ini sudah lama ada. Saya ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda. Alhamdulillah, berkat doa orang tua, keluarga, serta dukungan banyak pihak, pondok ini akhirnya bisa berdiri,” ujarnya dengan penuh haru.

Proses perintisan pondok Al-Muhlis bukanlah perjalanan singkat. Muhlis mengaku membangun pondok tersebut secara bertahap dengan menyisihkan sebagian gajinya sebagai anggota Polri. Ia juga mendapat dukungan dari rekan kerja serta masyarakat yang mengetahui niat tulusnya.

“Sedikit demi sedikit saya kumpulkan dana. Tidak mudah, butuh waktu bertahun-tahun. Tapi saya yakin, selama niatnya baik, Allah akan mudahkan jalannya,” katanya.

Kini, pondok Al-Muhlis telah berdiri kokoh dengan fasilitas ruang belajar, kamar santri, musala, serta area kegiatan bersama. Tak hanya diperuntukkan bagi warga sekitar, pondok ini juga terbuka bagi santri dari luar Kabupaten Maros, bahkan dari provinsi lain yang ingin menimba ilmu agama dan pengetahuan umum secara terpadu.

Saat ini tercatat sekitar 30 santri menimba ilmu di pondok tersebut. Kurikulum yang diterapkan tidak hanya berfokus pada pendidikan agama seperti Al-Qur’an, tafsir, dan fikih, tetapi juga mata pelajaran umum seperti matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. “Kami ingin santri memiliki bekal yang seimbang. Tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman,” jelas Muhlis.

Kehadiran pondok Al-Muhlis disambut hangat oleh masyarakat. Warga menilai langkah Aiptu Muhlis sebagai contoh nyata implementasi nilai-nilai Bhayangkara yang mengedepankan pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat, tidak hanya dalam aspek keamanan, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia.

Rizal, salah seorang warga Lau, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya atas inisiatif tersebut. Menurutnya, sebelum adanya pondok Al-Muhlis, banyak anak-anak di wilayah itu kesulitan mendapatkan pendidikan agama yang terstruktur tanpa harus pergi jauh dari rumah.

“Kini anak-anak kami punya tempat belajar yang layak dan dibimbing oleh pengajar yang kompeten. Kami sangat bangga dan berterima kasih kepada Pak Muhlis yang rela mengorbankan waktu serta tempat tinggal pribadinya demi masa depan generasi kami,” ujarnya.

Bagi Aiptu Muhlis, pondok Al-Muhlis bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ladang amal dan investasi jangka panjang untuk mencetak generasi berakhlak dan berilmu. Ia berharap pondok tersebut dapat terus berkembang dan menjadi pusat pendidikan agama yang berkualitas di wilayah Lau.

“Saya tidak bisa bekerja sendiri. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan mengembangkan pondok ini. Semoga kehadirannya membawa keberkahan dan manfaat seluas-luasnya,” tutupnya.

Aksi wakaf yang dilakukan Aiptu Muhlis menjadi bukti bahwa pengabdian seorang Bhayangkara tidak berhenti pada seragam dan tugas formal semata. Di balik tanggung jawab menjaga keamanan, tersimpan kepedulian mendalam terhadap masa depan generasi bangsa.

Rekomendasi Berita