Filologi, Upaya Menyelamatkan Warisan Lontara
- 23 Nov 2025 19:08 WIB
- Makassar
KBRN, Makassar : Filologi merupakan kunci penting dalam pelestarian naskah lontara, manuskrip kuno yang memuat beragam pengetahuan masyarakat Bugis. Surahman dkk. (2018) dalam Jurnal Ilmu Budaya Universitas Mulawarman memaparkan bahwa pendekatan filologi meliputi deskripsi naskah, transliterasi, penyuntingan, dan terjemahan agar dapat dipahami oleh generasi masa kini.
Tujuan filologi bukan hanya menyusun kembali teks, tetapi juga menghidupkan kembali makna sosial-budaya yang terkandung di dalamnya. Dengan pendekatan ini, nilai-nilai kehidupan dalam lontara dapat ditafsirkan ulang dan dimaknai sesuai dengan konteks zaman.
Penerapan filologi juga menjadikan lontara relevan dalam dunia pendidikan masa kini. Naskah ini tidak hanya menjadi objek kajian akademik, tetapi juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran berbasis kearifan lokal. Bahri dan Tati (2019) dalam jurnal Lontarak; Sumber Belajar Sejarah Lokal Sulawesi Selatan menjelaskan bahwa lontara memuat beragam aspek budaya Bugis yang kaya makna dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah lokal.
Pelestarian lontara kini menghadapi tantangan besar di era digital. Banyak naskah rusak karena faktor usia, sementara generasi muda semakin jarang mengenal aksara lontara. Digitalisasi dan pengembangan basis data online pun menjadi langkah strategis agar lontara tetap mudah diakses tanpa kehilangan nilai aslinya.
Filologi bukan sekedar disiplin akademis, melainkan jembatan penghubung antara masa lalu dan masa kini. Melalui alih aksara, penyuntingan, dan translasi, lontara tak lagi menjadi artefak terpinggirkan, melainkan warisan intelektual yang hidup dan terus dipelajari. (Suci)