Sektor Keuangan di Sulsel Tumbuh, Aset Perbankan Tumbuh Rp212,19 Triliun
- 11 Mar 2026 08:32 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) menilai kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan tetap berada dalam kondisi stabil di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Stabilitas sektor jasa keuangan tercermin dari berbagai indikator utama pada sektor Perbankan, Pasar Modal, serta Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) yang menunjukkan tumbuh positif.
Sejalan dengan kondisi tersebut, OJK terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, termasuk melalui berbagai kegiatan edukasi dan sosialisasi yang memanfaatkan momentum bulan Ramadan. "Terlebih saat ini Bulan Ramadan yang diidentik dengan aktivitas ekonomi dan transaksi lebih tinggi dibandingkan hari-hari lainnya,"kata Kepala OJK Sulselbar, Moch Muchlasin, Rabu 11 Maret 2026.
Muchlasin menuturkan periode Ramadan bisa menjadi momentum strategis untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan yang aman, legal, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Di sisi lain, Muchlasin juga membeberkan perkembangan sektor keuangan di Sulawesi Selatan khususnya di awal tahun 2026 ini.
Ia menyebut kinerja perbankan di Sulawesi Selatan menunjukkan kinerja yang stabil seperti pada indikator Total Aset, Dana Pihak Ketiga dan Kredit yang bahkan tumbuh lebih tinggi pada posisi Januari 2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025. "Total aset perbankan tumbuh sebesar 5,90 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp212,19 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7,83 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp145,27 triliun. DPK di Provinsi Sulawesi Selatan didominasi oleh tabungan dengan share 59,80 persen, disusul Deposito sebesar 24,22 persen dan Giro sebesar 15,99 persen,"jelas Muchlasin.
Kinerja intermediasi perbankan di Sulawesi Selatan tetap terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) 118,99 persen dan tingkat rasio kredit bermasalah berada di level 3,99 persen.
Sementara itu, Perbankan Syariah turut menunjukkan pertumbuhan positif pada posisi Januari 2026. "Total aset perbankan syariah tumbuh sebesar 26,19 persen (yoy) menjadi Rp21,20 triliun, dengan penghimpunan DPK yang tumbuh 23,61 persen menjadi Rp14,69 triliun dan penyaluran pembiayaan juga tumbuh sebesar 25,16 persen (yoy) menjadi Rp17,92 triliun,"jelas Muchsin.
Tingkat intermediasi perbankan Syariah berada pada level 122,00 persen dengan tingkat NPF pada level 1,77 persen.