Sedekah Bumi Masyarakat Dusun Munggur, Wujud Syukur Petani dan Pelestarian Budaya
- 18 Agt 2026 06:08 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Ngawi – Masyarakat Dusun Munggur, Desa Mangunharjo, Kecamatan/Kabupaten Ngawi, kembali menggelar tradisi Sedekah Bumi. Sanggar Panengen menginisiasi tradisi kirab budaya ini di Dusun Munggur, Desa Mangunharjo, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, sebagai salah satu kegiatan kultural yang sarat akan makna kebersamaan dan rasa syukur masyarakat setempat. Sis Setyo, selaku pendiri Sanggar Panengen, menjelaskan bahwa tradisi kirab ini mulai rutin diselenggarakan sejak tahun 2018 hingga 2019.
Meski belum lama berjalan, kegiatan ini digagas sebagai sarana untuk membangun kesadaran dan rasa syukur di tengah masyarakat, khususnya kalangan petani yang mendominasi letak geografis wilayah tersebut. Mengenai hal tersebut, Tyo mengungkapkan bahwa pokok utama dari kegiatan ini adalah "membangun kesadaran tentang rasa syukur ini intinya gitu. Nek sejarahe belum bisa dikatakan sejarah Mas, soalnya baru 2019. Mungkin bisa, cuman ketoke urung pantes gitu."katanya, Senin 17 Agustus 2026.
Tyo menceritakan rangkaian kegiatan tradisi ini berlangsung selama dua hari penuh. Pada malam tanggal 15 Agustus, masyarakat menggelar acara umbul donga dan kirab mbahe. Sebelum mengikuti kirab, ogoh-ogoh tikus terlebih dahulu ditempatkan di punden untuk menjalani ritual serta kenduri. Selanjutnya, pada pagi hari tanggal 16 Agustus, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kirab gunungan hasil bumi.
Dalam pelaksanaannya, tradisi kirab ini turut menampilkan ogoh-ogoh sebagai ciri khas yang membedakannya dengan kirab pada umumnya. Keberadaan ogoh-ogoh tersebut dimaknai secara filosofis sebagai simbol untuk menyimbolkan hama serta segala bentuk perlakuan yang tidak baik agar dihindari.
Menurut Tyo, gagasan awal tradisi ini justru lahir dari inisiatif para pemuda setempat yang aktif mengenalkan serta menawarkan kegiatan tersebut kepada teman-teman sebayanya. Dari segi perlengkapan, kirab budaya ini menggunakan berbagai atribut yang wajar dan umum, seperti kembang-kembang, wangi-wangian, serta pusaka tradisional seperti tombak dan payung.
Tyo menambahkan meskipun tidak ada aturan tertulis maupun larangan formal yang mengikat secara ketat, pelaksanaan kirab ini tetap berjalan dengan tertib atas dasar kesadaran bersama. Rangkaian acara tradisi ini juga dimeriahkan dengan berbagai kemeriahan layaknya acara pawai pada umumnya, seperti pawai bunga dan panggung hiburan. Kegiatan juga dibantu oleh mahasiswa KKN Universitas Islam Batik Surakarta (UNIBA).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....