Kenapa Kita Sulit Berbaik Hati Dengan Diri Sendiri
- 29 Jan 2026 10:29 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID , Madiun - Seringkali standar yang ada di tengah masyarakat saat ini seolah wajib menjadi sebuah acuan untuk mendefinisikan sebuah kesuksesan, kebahagiaan dan sebagainya. Akhirnya kita semakin menekan diri kita untuk tetap kuat, tidak boleh gagal bahkan sangat keras terhadap diri sendiri, padahal seharusnya kita lebih berbaik hati lagi dengan diri kita sendiri.
Psikolog sekaligus Dosen Prodi Psikologi UKWMS Kampus Kota Madiun menjelaskan satu sikap yang sederhana tetapi sering terlupakan, yaitu berbaik hati pada diri sendiri atau self-compassion. “Jadi berbaik hati kepada diri sendiri atau self- compassion adalah kemampuan seseorang untuk memperlakukan dirinya dengan kebaikan, pengertian, dan penerimaan, terutama saat sedang mengalami kesulitan, kegagalan, atau penderitaan,” Jelas Robik sapaan akrabnya.
“Dalam konteks ini juga, bahwa dengan berbaik hati dengan diri sendiri juga bukan berarti memanjakan diri sendiri, atau memaklumi kegagalan yang terjadi. Namun kita bisa menerima atas usaha atau apa yang sudah kita lakukan itu sudah cukup dan apapun hasilnya, sesuai ekspektasi atau sebaliknya,” jelas Dosen Psikologi UKWMS Kampus Kota Madiun.
Lebih lanjut Robik mengungkapkan, jika tujuan dari berbaik hati terhadap diri sendiri ini agar membuat diri kita lebih resilien, bertahan/ stay dan survive dalam menjalani kehidupan. Lantas kenapa banyak diantara kita atau bahkan kita sendiri yang sangat sulit untuk berbaik hati kepada diri sendiri.
Budaya prestasi dan produktivitas
Menurut Robik, budaya prestasi menjadi ukuran pencapaian. Kita dalam bermasyarakat seolah terdapat standar pencapaian dan kesuksesan, ada sebuah aturan yang tidak tertulis dan bahkan diyakini banyak orang. Padahal kita menyadari jika konsep sukses setiap orang berbeda.
Apalagi media sosial saat ini menampilkan potongan keberhasilan orang lain, sementara perjuangan pribadi jarang terlihat. Alhasil nilai diri sering diukur dari pencapaian, kecepatan, dan hasil yang mengakibatkan banyak orang hidup dengan keyakinan bahwa dirinya baru layak dihargai jika berhasil.
Kebiasaan mengkritik diri sejak lama
Mengkritik diri sendiri atau self criticism sering dilakukan atas kegagalan yang terjadi atau bahkan atas kesuksesan orang lain. Self criticism juga menjadi lawan terbesar dari self compassion. Sebagian dari kita bahkan tumbuh dalam lingkungan yang lebih sering menegur daripada menguatkan. Jika terus- menerus, suara kritik itu menjadi dialog batin, bahkan saat tidak ada orang lain yang menilai. Dalam teori self-criticism, pola ini berhubungan dengan kerentanan terhadap kecemasan dan depresi.
Anggapan tidak tepat bahwa keras pada diri sendiri akan membuat lebih sukses.
Banyak yang percaya bahwa kalau tidak keras pada diri sendiri, kita akan menjadi malas atau tidak berkembang. Padahal penelitian menunjukkan sebaliknya: kritik diri yang berlebihan justru melemahkan motivasi dan meningkatkan ketakutan akan gagal.
Sulit Menerima Emosi Negatif
Seringnya mendapatkan kritikan akhirnya akan terbentuk afirmasi negatif dan kemudian kita akan melakukan self criticism hingga over self criticism. Alhasil, emosi- emosi negatif ada dalam internal diri kita dan membuat kita semakin sulit menerima emosi negatif. Sebagian orang terbiasa menolak sedih, kecewa, atau lelah karena dianggap tanda kelemahan. Emosi ditekan, bukan dipahami. Padahal emosi adalah sinyal, bukan musuh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....