Pasutri Asal Madiun Sulap Karung Goni jadi Beragam Kerajinan

  • 05 Jan 2024 15:34 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun: Karung Goni sering dijumpai untuk menyimpan biji-bijian, beras, maupun hasil panen lainnya. Terkadang, jika sudah tidak terpakai, karung goni dibuang begitu saja.

Namun sebaliknya, di tangan Yusuf Ardiatno dan Fatmalia Yulinda, perca goni justru disulap menjadi aneka kerajinan. Seperti tas berbagai ukuran dan model, sandal, topi, serta souvenir lainnya.

Ditemui RRI di kediamannya Jalan Semangka, Kelurahan/Kecamatan Taman, Kota Madiun, pasangan suami istri (pasutri) itu tampak sibuk membuat tas berbahan dasar karung goni. Fatma mengakui, usahanya itu dirintis sejak 2017, berawal dari hobinya menekuni rajutan.

Saat itu ia mencoba memproduksi tas, hingga akhirnya beralih ke goni sebagai bahan dasar pembuatan kerajinan. Menurutnya, karung goni dipilih karena ingin memanfaatkan limbah, agar tidak terbuang sia-sia.

“Goni ini kan memang belum banyak yang mengeksplore ya, apalagi yang upcycle ini belum banyak penggunanya. Jadi saya mencoba mengolah itu karena teksturnya yang berbeda daripada tekstur goni yang sudah jadi,” ujarnya, Jum’at (5/1/2024).

Kerajinan dari perca goni hasil karya pasutri Yusuf-Fatma dilirik banyak konsumen.

Jatuh bangun telah dirasakan Fatma dan suami ketika merintis usaha. Apalagi kala itu dihantam wabah covid-19, membuat usaha kerajinannya sempat tersendat.

“Kalau jatuh bangunnya itu ya saat pandemi itu. Di awal-awal itu kan memang penjualan kita sedikit, bahannya terbatas, masyarakat juga masih ragu dengan produk kita, tapi karena kita terus melakukan riset seperti apa permintaan pasar, akhirnya kita bisa melangkah sejauh ini,” tambahnya.

Saat mendapat orderan souvenir, ia mampu memproduksi hingga 200 pcs. Sedangkan custom seperti topi, maupun tas sebulan mampu memproduksi puluhan pcs.

Sementara itu Yusuf Ardiatno menyatakan, pemasaran kerajinan goni yang ia buat tidak hanya dilakukan secara offline, melainkan juga online di media sosial. Bahkan, penjualannya tidak hanya di dalam kota bekerjasama dengan hotel, mall, maupun membuka stand di lokasi wisata, tetapi sudah merambah ke luar pulau Jawa.

Bahkan, tidak disangka, karyanya itu pernah ikut dipamerkan pada event Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di Mandalika. Serta, dalam KTT G-20, dan Global Pengurangan Risiko Bencana atau Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) di Bali tahun lalu.

“Kalau dilihat dari uniknya, masyaralat antusias sekali. Karena ini kan selain memiliki nilai etnis, kita juga menggunakan perca atau bahan bekas sehingga itu menambah nilai dari kerajinan kami,” ucapnya.

Fatma ditemani suaminya saat menata hasil kerajinan berbahan dasar karung goni.

“Orderan paling banyak itu pada event pertemuan, kemudian di hari raya itu ada pesanan tas untuk hampers,” tambahnya.

Seperti diketahui, aneka kerajinan dari karung goni milik pasutri Yusuf Ardiatno dan Fatmalia Yulinda diberi nama Charu Dhatri. Harganya pun cukup terjangkau, dibandrol mulai Rp10 ribu hingga Rp200 ribu per pcs.

Jika di awal merintis usaha, keuntungan yang didapat sekitar Rp4 juta, kini sudah di angka dua digit, sekitar Rp10-Rp15 juta sebulan. Tak puas disitu, ia dan istri ke depan terus berupaya mengembangkan usaha dengan peningkatan ilmu, skill, dan manajemen pemasaran.

“Bagi kami itu semua perlu di-upgrade. Kita juga butuh pelatihan, dan pembekalan di bidang usaha, karena selama ini kan kita membuat kerajinan ini secara otodidak,” katanya mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....