Tak Ada Tango di Grahadi, Diana Sasa: Kekalahan Argentina Tetap Bermartabat
- 21 Jul 2026 00:20 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Magetan - Suasana Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (20/7/2026) dini hari, sempat dipenuhi harapan para pendukung Argentina. Namun, setelah 120 menit pertandingan, trofi Piala Dunia 2026 akhirnya jatuh ke tangan Spanyol. Di antara ribuan penonton yang mengikuti laga melalui layar lebar, Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Diana A.V. Sasa, memilih melihat hasil itu bukan sekadar soal menang atau kalah.
Bagi Ketua DPC PDI Perjuangan Magetan tersebut, kekalahan Argentina dengan skor 0-1 dari Spanyol merupakan kekalahan yang tetap menyisakan kehormatan. Ia menilai perjuangan para pemain Albiceleste, terutama penjaga gawang Emiliano "Dibu" Martinez, layak mendapat apresiasi.
Sasa sapaan akrabnya mengaku semula berencana mengikuti nonton bareng bersama masyarakat di Magetan. Namun agenda rapat di Surabaya pada Senin pagi membuatnya berangkat lebih awal dan bergabung dalam nobar yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Gedung Grahadi bersama Gubernur Jawa Timur, jajaran pemerintah provinsi, Sekretariat DPRD Jatim, serta masyarakat.
Menurutnya, pengalaman menyaksikan laga final bersama ribuan warga Surabaya memberikan kesan tersendiri.
"Awalnya saya ingin nobar bersama warga di Magetan. Tetapi karena harus menghadiri rapat di Surabaya pagi harinya, saya berangkat lebih awal dan akhirnya menyaksikan final di Grahadi. Rasanya menjadi pengalaman yang sangat berkesan karena bisa menikmati atmosfer final bersama masyarakat di kota yang sudah saya cintai lebih dari lima belas tahun," ujarnya.
Di atas lapangan, Spanyol memastikan gelar juara dunia kedua sepanjang sejarah setelah Ferran Torres mencetak gol pada menit ke-106 babak tambahan waktu. Sepanjang pertandingan, La Roja tampil dominan dengan penguasaan bola mencapai 68 persen dan terus menekan pertahanan Argentina.
Meski demikian, perempuan pegiat literasi itu menilai hasil tersebut tidak mengurangi perjuangan tim asuhan Lionel Scaloni. Ia mengingatkan bahwa Argentina harus kehilangan dua bek tengah andalannya akibat cedera, yakni Lisandro Martinez dan Cristian Romero. Situasi semakin berat setelah Enzo Fernandez menerima kartu merah menjelang babak tambahan waktu sehingga Argentina harus bermain dengan sepuluh pemain.
Menurut Diana Sasa, salah satu sosok yang paling layak dikenang dari pertandingan tersebut adalah Emiliano Martinez. Penampilan sang penjaga gawang dinilainya menjadi alasan Argentina mampu bertahan hingga babak perpanjangan waktu.
Apresiasi khusus ia berikan kepada Dibu Martinez yang tampil gemilang di bawah mistar.
"Dari sebelas tembakan tepat sasaran Spanyol, sepuluh diselamatkan Dibu. Hanya satu yang lolos, itu pun setelah 106 menit dan saat Argentina kalah jumlah pemain. Sepuluh penyelamatan di final Piala Dunia -itu penampilan kelas dunia dalam kekalahan tim," tegasnya.
Politisi PDI Perjuangan itu juga memetik pelajaran dari suasana nobar di Grahadi yang berlangsung guyub hingga laga usai.
"Pendukung Argentina dan Spanyol pulang lewat gerbang yang sama, tidak ada yang bertengkar. Politik mestinya juga begitu, bertarung habis-habisan, lalu pulang lewat gerbang yang sama," ujarnya.
Menutup komentarnya, Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur iru menitipkan pesan Kepada warga Magetan yang batal ditemaninya nobar bisa meneladani semangat Emiliano Martinez yang terus bertahan menjaga gawang meski berada dalam tekanan.
"Ingatlah Dibu Martinez setiap kali hidup mengepung dari segala arah. Berdirilah di bawah mistar masing-masing, tepis apa yang bisa ditepis. Kalaupun akhirnya kebobolan, pastikan kita tidak pernah meninggalkan gawang itu," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....