Media Sosial Picu Insecure Anak Muda?

  • 22 Jan 2026 11:55 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun: Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak muda. Namun di balik kemudahan berbagi dan berekspresi, platform digital ini juga dinilai berperan dalam meningkatnya rasa insecure di kalangan generasi muda.

Psikolog Andi Cahyadi mengatakan, paparan konten yang menampilkan pencapaian, gaya hidup, hingga standar fisik tertentu secara terus-menerus dapat memengaruhi cara anak muda memandang dirinya sendiri.

“Ketika seseorang terlalu sering membandingkan hidupnya dengan apa yang dilihat di media sosial, rasa tidak cukup dan tidak percaya diri bisa muncul,” ujar Andi, Rabu, 22 Januari 2026.

Menurut Andi, media sosial sering kali menampilkan versi terbaik dari kehidupan seseorang. Hal ini membuat realitas yang dialami anak muda terasa tertinggal atau kurang menarik. Kondisi tersebut kemudian memicu perasaan cemas, minder, hingga meragukan kemampuan diri sendiri.

Ia menambahkan, budaya comparison dan pencarian validasi melalui likes serta komentar memperkuat rasa insecure. Anak muda cenderung mengaitkan nilai dirinya dengan respons orang lain di dunia maya.

“Padahal, nilai diri tidak seharusnya ditentukan oleh angka di layar,” jelasnya.

Dampak dari insecure yang dipicu media sosial tidak bisa dianggap sepele. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental, seperti stres berlebih, kecemasan sosial, hingga penurunan motivasi.

Meski demikian, Andi menegaskan bahwa media sosial bukan satu-satunya penyebab. Faktor lingkungan, pola asuh, serta pengalaman pribadi juga berperan dalam membentuk rasa percaya diri anak muda.

Ia mengimbau generasi muda untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, salah satunya dengan membatasi waktu layar dan menyaring konten yang dikonsumsi.

“Mengikuti akun yang memberi inspirasi, bukan tekanan, bisa membantu menjaga kesehatan mental,” katanya.

Selain itu, membangun kesadaran diri dan fokus pada proses pengembangan diri dinilai lebih penting dibanding terus membandingkan diri dengan orang lain.

“Setiap orang punya timeline hidup yang berbeda,” pungkas Andi.

Rekomendasi Berita