Fenomena Insecure di Kalangan Gen Z

  • 22 Jan 2026 11:53 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Rasa tidak percaya diri atau insecure menjadi fenomena yang semakin sering dialami oleh generasi Z. Di tengah perkembangan teknologi, media sosial, serta tuntutan hidup yang serba cepat, banyak anak muda merasa dirinya kurang, tertinggal, dan tidak sesuai dengan standar yang ada di sekitarnya.

Psikolog Andi Cahyadi menilai, Gen Z hidup dalam era yang membuat proses membandingkan diri dengan orang lain berlangsung hampir setiap saat.

“Media sosial menjadi ruang utama munculnya perbandingan sosial. Anak muda melihat pencapaian, penampilan, dan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna,” ujar Andi, Rabu 21 Januari 2026.

Menurut Andi, paparan tersebut sering kali tidak diimbangi dengan kesadaran bahwa apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Hal ini kemudian membentuk persepsi keliru bahwa semua orang sukses, bahagia, dan melaju lebih cepat.

Selain faktor digital, tekanan lingkungan juga berperan besar. Ekspektasi keluarga, sekolah, dan masyarakat agar anak muda cepat berhasil kerap membuat Gen Z merasa terbebani.

“Banyak dari mereka masih dalam tahap eksplorasi diri, tapi sudah dituntut untuk punya arah hidup yang pasti,” jelas Andi.

Ia menambahkan, insecure juga muncul karena minimnya ruang aman untuk gagal. Ketika kesalahan kecil dianggap sebagai kegagalan besar, anak muda cenderung menyalahkan diri sendiri dan meragukan kemampuannya.

Namun demikian, Andi menegaskan bahwa insecure bukan sesuatu yang harus ditakuti.

“Rasa insecure adalah hal yang manusiawi. Itu tanda seseorang sedang bertumbuh dan mengenali batas dirinya,” katanya.

Andi menyarankan Gen Z untuk mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri, salah satunya dengan mengurangi kebiasaan membandingkan diri serta lebih fokus pada proses pribadi. Menjaga keseimbangan dalam menggunakan media sosial juga menjadi langkah penting.

Menutup pernyataannya, Andi mengajak anak muda untuk lebih sabar dan berbelas kasih pada diri sendiri.

“Setiap orang punya timeline hidup yang berbeda. Tidak perlu terburu-buru memenuhi standar orang lain,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita