RRI.CO.ID, Madiun - Media sosial kini bukan sekadar ruang berbagi aktivitas, tetapi juga menjadi tempat mencari pengakuan bagi banyak generasi Z. Jumlah likes, komentar, dan views sering kali dijadikan tolok ukur penerimaan sosial, bahkan memengaruhi rasa percaya diri anak muda.Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan, kebutuhan akan validasi sebenarnya adalah hal yang wajar. Namun di era digital, validasi tersebut cenderung bergeser ke ruang publik yang serba instan.
“Media sosial memberikan respons cepat. Ini membuat anak muda terbiasa mengaitkan nilai dirinya dengan reaksi orang lain,” ujar Andi, Rabu 21 Januari 2026.
Menurut Andi, ketika unggahan tidak mendapat respons sesuai harapan, sebagian Gen Z bisa merasa tidak cukup menarik, tidak penting, atau bahkan gagal. Pola ini jika berlangsung terus-menerus dapat berdampak pada kesehatan mental, seperti kecemasan dan rendahnya harga diri.
Ia menambahkan, algoritma media sosial juga memperkuat kebiasaan tersebut. Konten yang viral sering dianggap sebagai simbol kesuksesan, sehingga mendorong anak muda untuk terus mencari perhatian dan pengakuan.
“Padahal, apa yang terlihat ramai di media sosial belum tentu mencerminkan kebahagiaan nyata,” katanya.
Fenomena ini semakin terasa karena Gen Z tumbuh di tengah budaya comparison. Melihat pencapaian orang lain secara berulang membuat proses membandingkan diri menjadi sulit dihindari. Hal ini kemudian memicu rasa tidak aman dan kebutuhan untuk terus diakui.
Meski begitu, Andi menegaskan bahwa media sosial tidak sepenuhnya berdampak negatif. Platform digital juga bisa menjadi ruang berekspresi, berbagi karya, dan membangun komunitas positif jika digunakan secara sadar.
Ia mengajak Gen Z untuk mulai membedakan antara validasi eksternal dan penerimaan diri.
“Validasi dari orang lain boleh saja, tapi jangan sampai menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan,” jelasnya.
Menutup pernyataannya, Andi mengingatkan pentingnya membangun nilai diri dari proses dan pengalaman nyata.
“Ketika anak muda mengenal dirinya dengan baik, validasi dari luar tidak lagi menjadi kebutuhan utama,” pungkasnya.